SIKEBAUJAYA(CakrawalaIndonesia.id) – Di tengah kepungan kebun sawit yang menghampar luas, secercah harapan hijau seluas 7,52 hektare di Desa Sikebau Jaya Kecamatan Rokan IV Koto masih bertahan. Demi memastikan jantung air desa itu tetap berdetak, jajaran Pemerintah Desa bersama pengelola Hutan Desa turun langsung ke lapangan.
Pada Jumat (24/10/2026), Sekretaris Desa Sikebau Jaya, Fajri Cahyadi, bersama Pendamping Perhutanan Sosial dari Balai Kehutanan Sosial Kampar, M. Syari Faidar, S.E., S.H, Ketua LPHD Desa Sikebau Jaya Maulana, Wakil Ketua LPHD Hendrik Ardiansyah, dan Kepala Dusun 1 Mastion melakukan pengecekan kondisi terkini Hutan Desa yang di dalamnya terdapat Air Terjun Reksowono.
Penyisiran dilakukan menyusuri batas kawasan sesuai SK seluas 7,52 Ha, mulai dari hilir yang menjadi jalur Pipa Pamsimas Desa hingga ke hulu lokasi air terjun serta melihat kondisi areal yang langsung berbatasan dengan kebun sawit.
“Kita lihat kondisi terakhir di lapangan. Alhamdulillah, hutan inti masih rapat dan terjaga. Tapi PR kita ada di hulu, sudah mepet sekali dengan sawit. Kalau tidak segera kita bentengi, debit air terancam. Ini yang ke depan akan kita tanami bibit beringin,” ujar Ketua LPHD Maulana di sela peninjauan.
Dukungan penuh datang dari Pemerintah Desa. Sekdes Fajri Cahyadi menegaskan, Hutan Desa bukan hanya milik kelompok, tapi aset vital seluruh warga.
“Kami dari pemerintah desa mendukung penuh. Hutan ini bukan milik LPHD saja, tapi milik Desa Sikebau Jaya. Sumber air bersih Pamsimas kita dari sini, kebanggaan kita Air Terjun Reksowono juga dari sini. Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi? Hasil penelusuran hari ini akan kita jadikan dasar Rencana Pengelolaan dan pengajuan bantuan bibit beringin kepada para pihak,” tegas Fajri.
Keresahan yang sama dirasakan warga di tapak. Kepala Dusun 1, Mastion, mengaku sudah mulai melihat dampaknya.
“Dulu air terjun deras, kemarau panjang pun tetap ngalir. Sekarang kemarau dua minggu saja sudah kecil airnya. Makanya saya ikut cek langsung, kita mau pastikan pipa Pamsimas aman dan jalur tracking wisata alam bisa segera kita buka untuk pegiat alam dan anak-anak muda,” ungkap Mastion.
Sementara itu, inisiator kegiatan penelusuran M. Syari Faidar menyebutkan, mapping potensi dan cek kondisi di lapangan ini adalah kunci sebelum melangkah lebih jauh.
“Hari ini saya lihat langsung areal hutan ini. Kawasan 7,52 Ha ini mutlak harus kita jaga. Setelah batasnya jelas, kita akan masuk ke program penanaman beringin di hulu. Kita akan rawat dan kelola hutan ini sehingga benar-benar bisa bermanfaat bagi masyarakat Desa Sikebau Jaya,” pungkasnya.
Dari hasil pemetaan, tim menemukan tiga titik prioritas yang harus segera ditangani: zona hulu yang mulai gundul dan perlu tanaman penguat tebing, jalur tracking perlu dibersihkan, serta penanaman bunga untuk keindahan serta sebagai penarik serangga dan pakan alami bagi burung-burung liar di sekitar hutan, dan di sekitar area pintu masuk akan ditata menjadi pos jaga dan area parkir.
Kegiatan ditutup dengan foto bersama di depan Air Terjun Reksowono 2 Tingkat, sebagai simbol komitmen bersama menjaga oase terakhir di tengah kepungan sawit tersebut.






