Opini  

MEMAKNAI PESAN ARAFAH BAGI YANG BELUM BERANGKAT HAJI; Ketika Panggilan Langit Menyentuh Hati

Memaknai Pesan Arafah
MEMAKNAI PESAN ARAFAH BAGI YANG BELUM BERANGKAT HAJI; Ketika Panggilan Langit Menyentuh Hati.

oleh: Ade Marpudin
(Ketua STES Bhakti Nugraha dan
Ketua Umum DPP-Ikatan Pembimbing Haji dan Umrah Indonesia)

(CAKRAWALAINDONESIA.ID)

Kalimat dialog sekaligus perintah Allah Swt kepada Nabi Ibrahim As, sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Qur’an, merupakan panggilan spiritual yang melintasi ruang dan waktu. Allah Swt, berfirman dalam QS. Al-Hajj: 27

وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ ۙ

“Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”

Ayat ini bukan sekadar perintah biasa, melainkan seruan ilahi yang penuh makna ketauhidan, pengorbanan, dan penghambaan. Menurut para mufassir, ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim As, untuk menyerukan ibadah haji, Nabi Ibrahim sempat bertanya bagaimana mungkin suaranya dapat didengar oleh manusia di seluruh penjuru bumi. Namun, Allah Swt, menegaskan bahwa tugas Nabi Ibrahim hanyalah menyeru, sedangkan Allah yang akan menyampaikan seruan itu ke dalam hati manusia.

Pesan ayat tersebut sangat menggugah hati setiap orang yang membaca dan memahaminya. Sebab, panggilan haji pada hakikatnya bukan hanya panggilan menuju Ka’bah, tetapi panggilan untuk kembali kepada Allah Swt, membersihkan jiwa, dan menata ulang arah kehidupan. Tidak heran jika banyak orang yang meneteskan air mata ketika mendengar talbiyah, karena di dalamnya ada getaran kerinduan spiritual yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Seruan Nabi Ibrahim As, juga mengandung pesan universal bahwa ibadah haji adalah pertemuan besar umat manusia dalam ikatan tauhid. Mereka datang dari berbagai bangsa, bahasa, warna kulit, dan status sosial, namun dipersatukan oleh satu tujuan: memenuhi panggilan Allah Swt. Di hadapan-Nya, semua manusia sama; yang membedakan hanyalah ketakwaannya.

Karena itu, ayat ini bukan hanya menggambarkan perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan nilai dan transformasi diri. Haji mengajarkan manusia untuk meninggalkan kesombongan, menanggalkan ego, memperkuat spiritualitas, dan membangun kehidupan yang lebih bermakna. Dari sinilah spirit haji mabrur lahir, yaitu ketika panggilan Allah tidak hanya dijawab dengan keberangkatan ke Tanah Suci, tetapi juga dengan perubahan akhlak dan kualitas hidup setelah kembali ke tanah air.

Tidak semua orang tahun ini dapat berdiri di Padang Arafah. Tidak semua orang memiliki kesempatan mengenakan ihram, mengucapkan talbiyah, atau menitikkan air mata di bawah terik matahari Tanah Suci. Ada yang tertunda karena usia, biaya, kesehatan, antrean panjang, bahkan keadaan hidup yang belum memungkinkan. Namun, sesungguhnya getaran haji tidak hanya milik mereka yang berangkat. Ada panggilan ruhani yang juga mengetuk hati jutaan muslim yang berada jauh dari Makkah.

Karena Arafah bukan hanya tempat, tetapi momentum kesadaran, bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan hati menuju Allah.

Ketika jutaan manusia berkumpul di bumi Arafah dengan pakaian putih sederhana, sesungguhnya dunia sedang diperlihatkan tentang hakikat manusia. Bahwa manusia berasal dari tanah. Bahwa semua akan kembali kepada tanah. Dan bahwa pada akhirnya semua manusia akan berdiri di hadapan Allah tanpa membawa jabatan, kekayaan, ataupun popularitas.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ

“Wahai manusia, sesungguhnya engkau telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka pasti engkau akan menemui-Nya.” (QS. Surah Al-Insyiqaq: 6)

Ayat ini sesungguhnya tidak hanya ditujukan kepada jamaah haji, tetapi kepada seluruh manusia. Pada hakikatnya, kita semua sedang berjalan menuju Allah.

Sebuah Kisah Tentang Kerinduan yang Tidak Pernah Mati

Di sebuah kampung kecil, hiduplah seorang lelaki tua sederhana. Pekerjaannya hanya penjual sayur keliling. Sepanjang hidupnya ia menabung sedikit demi sedikit dengan harapan suatu hari dapat berhaji. Tetapi hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Tabungannya beberapa kali habis untuk biaya sekolah anaknya. Pernah juga digunakan untuk biaya istrinya yang sakit. Tahun demi tahun berlalu. Rambutnya memutih. Tubuhnya mulai renta. Dan impian berhaji tampak semakin jauh.

Setiap musim haji tiba, ia hanya duduk di depan televisi kecil di rumahnya. Menyaksikan jutaan manusia thawaf mengelilingi Ka’bah. Matanya berkaca-kaca. Tetangganya pernah berkata:

“Pak, mungkin memang belum rezekinya.”

Lelaki tua itu tersenyum pelan lalu berkata, “Kalau kaki saya belum sampai ke Makkah, mudah-mudahan hati saya jangan sampai jauh dari Allah.”

Kalimat sederhana itu sangat dalam, karena sesungguhnya tidak sedikit manusia yang sampai ke Makkah tetapi tidak sampai kepada Allah. Sebaliknya, ada orang yang tubuhnya jauh dari Ka’bah dan tidak pernah hadir di bumi Arafah, tetapi hatinya sangat dekat dengan Rabb pemilik Ka’bah.

Hari Arafah sesungguhnya mengajarkan bahwa yang paling penting bukan hanya perjalanan fisik, tetapi perjalanan batin. Di Arafah manusia sedang diajak mengenal dirinya: betapa kecil dirinya, betapa banyak dosanya, dan betapa besar rahmat Allah.

Rasulullah Saw. bersabda, “Haji itu adalah Arafah.” (HR. Sunan At-Tirmidzi).

Mengapa Arafah menjadi inti haji? Karena di sanalah manusia sedang dipertontonkan miniatur Padang Mahsyar. Lautan manusia, pakaian sederhana, terik matahari, dan semua berharap ampunan Allah Swt. Bukankah suatu hari nanti kita semua juga akan berdiri di hadapan-Nya?

Kisah Imam yang Menangis di Hari Arafah

Dalam sebuah riwayat, seorang ulama besar Sufyan Ats-Tsauri pernah melihat seorang laki-laki menangis sangat lama di hari Arafah. Air matanya terus mengalir, wajahnya penuh penyesalan, lalu ada seseorang bertanya, “Siapakah manusia yang paling buruk di tempat ini?”

Sufyan Ats-Tsauri menjawab, “Orang yang hadir di Arafah tetapi masih berprasangka bahwa Allah tidak akan mengampuninya.”

Jawaban itu sangat mengguncang. Artinya, sebesar apa pun dosa manusia, rahmat Allah jauh lebih besar. Dan kabar baiknya, rahmat Allah Swt, di Arafah tidak hanya untuk yang hadir di Tanah Suci dan di Arafah. Bagi yang belum berhaji, pintu langit tetap terbuka.

Masih ada doa yang bisa dipanjatkan, masih ada air mata taubat yang bisa ditumpahkan.

Masih ada sujud panjang di sepertiga malam. Karena Allah tidak hanya melihat siapa yang sampai ke Arafah, tetapi siapa yang sungguh-sungguh kembali kepada-Nya.

Haji Adalah Simbol Kehidupan

Seluruh rangkaian haji sebenarnya sedang mengajarkan pelajaran besar kepada manusia. Ihram mengajarkan kesederhanaan. Pakaian putih tanpa jahitan itu seperti kain kafan, seakan Allah sedang berkata, “Suatu hari nanti engkau akan kembali kepada-Ku tanpa membawa apa pun.”

Lalu mengapa manusia masih sombong? Mengapa masih saling merendahkan? Padahal semua akan kembali menjadi tanah. Allah Swt, berfirman:

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ

“Dari tanah Kami menciptakan kalian dan kepadanya Kami akan mengembalikan kalian.”
(QS. Surah Taha: 55)

Tawaf Mengajarkan Pusat Kehidupan

Jamaah haji mengelilingi Ka’bah sebagai simbol bahwa pusat hidup harus Allah. Namun, banyak manusia hari ini justru bertawaf mengelilingi dunia, mengelilingi uang, jabatan, popularitas, dan pujian manusia. Akibatnya hati mudah gelisah. Allah Swt, berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Surah Ar-Ra’d: 28)

Sa’i Mengajarkan Harapan

Siti Hajar berlari antara Shafa dan Marwah dalam keadaan sendiri dan penuh kecemasan. Tetapi ia tidak menyerah. Dan Allah menghadirkan Zamzam dari tempat yang tidak disangka.

Mungkin hari ini kita belum mampu berhaji karena keterbatasan ekonomi. Tetapi bukankah Allah juga mampu membuka jalan dari arah yang tidak pernah kita duga?

Betapa banyak orang memiliki uang tetapi belum dipanggil Allah. Dan betapa banyak orang sederhana justru dimudahkan jalannya menuju Baitullah, karena haji bukan sekadar soal kemampuan finansial, tetapi juga panggilan spiritual.

Bagi yang belum berhaji tahun ini, jangan merasa Allah melupakan Anda. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan waktu terbaik. Bisa jadi Allah sedang mematangkan hati sebelum memanggil ke rumah-Nya. Dan bisa jadi, rindu yang terus dipelihara hari ini akan menjadi jalan kemuliaan di hadapan Allah.

Rasulullah Saw, bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Sahih Bukhari).

Maka jangan pernah meremehkan kerinduan kepada Tanah Suci, sebab bisa jadi air mata kerinduan yang jatuh diam-diam di malam hari lebih bernilai di sisi Allah daripada langkah kaki yang penuh kesombongan.

Karena sesungguhnya Arafah bukan hanya milik mereka yang hadir di padangnya. Arafah adalah milik setiap hati yang ingin kembali kepada Allah. Milik orang yang sedang memperbaiki shalatnya. Milik orang yang menangisi dosanya. Milik orang yang sedang belajar ikhlas.

Milik orang yang belum sampai ke Ka’bah tetapi sangat merindukannya. Dan mungkin, ada orang yang belum pernah melihat Ka’bah dengan matanya, tetapi hatinya sudah lebih dahulu berada di sana. Semoga setiap doa dan ikhtiar menjadi penguat untuk memenuhi panggilan-Nya.