Oleh: Dr. Ir. H. Narmodo, M.Ag.
Ketua PD Muhammadiyah Jakarta Barat, Akademisi dan Da’i
Ketika Dollar Naik, Rakyat Indonesia Ikut Gelisah
Setiap kali nilai dollar Amerika menguat, rakyat Indonesia hampir selalu ikut cemas. Harga kebutuhan perlahan naik. Ongkos hidup terasa semakin berat. Harga bahan baku meningkat. Tiket pesawat naik. Biaya pendidikan luar negeri membengkak. Bahkan biaya umrah dan haji ikut terdorong naik.
Ironisnya, banyak rakyat kecil yang tidak pernah memegang dollar pun akhirnya ikut menanggung dampaknya.
Seorang pedagang gorengan di pinggir jalan mungkin tidak pernah membeli dollar. Tetapi ketika harga minyak goreng naik karena biaya impor dan distribusi meningkat, ia ikut merasakan dampaknya. Sopir angkot mungkin tidak memahami pasar valuta asing, tetapi ketika harga BBM naik atau suku cadang kendaraan semakin mahal, penghasilannya ikut tertekan.
Begitu pula seorang ayah yang sedang menabung untuk biaya kuliah anaknya. Ketika rupiah melemah, biaya pendidikan, laptop, buku, hingga kebutuhan penunjang lainnya ikut naik perlahan. Tanpa disadari, daya beli masyarakat terus tergerus.
Pertanyaannya sederhana namun menyakitkan: mengapa rupiah begitu mudah terguncang?
Padahal Indonesia bukan negara kecil. Negeri ini kaya tambang, kaya laut, kaya energi, kaya hutan, dan memiliki jumlah penduduk yang besar. Tetapi setiap dunia bergejolak, rupiah hampir selalu ikut melemah.
Ini bukan sekadar persoalan kurs mata uang. Ini adalah cermin besar tentang kualitas fondasi ekonomi dan arah pembangunan bangsa.
Dunia Sedang Takut, dan Dollar Menjadi Tempat Berlindung
Ketika konflik geopolitik memanas, perang berkepanjangan terjadi di berbagai kawasan, dan ekonomi global melambat, investor dunia mencari tempat yang dianggap paling aman untuk menyimpan uang mereka.
Dan sampai hari ini, dunia masih menganggap Amerika sebagai tempat berlindung paling aman. Dalam berbagai laporan International Monetary Fund dan World Bank, dollar masih menjadi mata uang utama dunia dalam perdagangan internasional, cadangan devisa, dan transaksi global.
Akibatnya, modal global bergerak masuk ke Amerika: membeli dollar, membeli obligasi pemerintah AS, dan menyimpan aset berbasis dollar. Permintaan dollar meningkat tajam, sehingga nilai dollar ikut menguat terhadap hampir seluruh mata uang dunia, termasuk rupiah.
Sementara negara-negara berkembang seperti Indonesia justru mengalami tekanan. Investor asing menarik dana mereka dan kembali ke Amerika yang dianggap lebih stabil.
Namun sesungguhnya, badai global hanya memperlihatkan kelemahan yang sebenarnya sudah lama ada di dalam tubuh bangsa ini.
Rupiah Lemah karena Fondasi Ekonomi Kita Belum Kokoh
Indonesia masih terlalu bergantung pada impor: BBM, bahan baku industri, mesin, teknologi, obat-obatan, hingga pangan tertentu.
Menurut data Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian Indonesia, struktur impor Indonesia masih didominasi bahan baku dan barang modal industri. Ini menunjukkan bahwa industri nasional masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap teknologi dan komponen dari luar negeri.
Akibatnya, setiap kali kebutuhan dollar meningkat, rupiah langsung tertekan.
Lebih ironis lagi, negeri yang kaya sumber daya alam ini selama bertahun-tahun masih lebih dominan mengekspor komoditas mentah dan semi mentah, sementara banyak produk industri bernilai tambah tinggi justru diimpor kembali dengan harga jauh lebih mahal.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa ekspor Indonesia masih didominasi komoditas berbasis sumber daya alam seperti batu bara, CPO, dan mineral, sementara impor banyak berasal dari mesin, peralatan teknologi, dan produk manufaktur bernilai tambah tinggi.
Ekonom Korea Selatan, Ha-Joon Chang dalam bukunya Kicking Away the Ladder menjelaskan bahwa negara berkembang yang terlalu lama bergantung pada ekspor bahan mentah biasanya sulit keluar dari jebakan ketergantungan ekonomi global tanpa industrialisasi yang kuat.
Artinya, Indonesia kaya sumber daya, tetapi belum sepenuhnya kuat dalam industri dan teknologi.
Inilah ironi besar Indonesia: tanahnya kaya, tetapi mata uangnya rapuh.
Rupiah Sesungguhnya Adalah Cermin Bangsa
Sering kali masyarakat mengira pelemahan rupiah hanyalah urusan Bank Indonesia atau Menteri Keuangan. Padahal nilai mata uang jauh lebih dalam daripada itu.
Rupiah sesungguhnya adalah cermin: kualitas pendidikan bangsa, produktivitas rakyat, integritas pejabat, budaya kerja, kekuatan industri, kepastian hukum, dan tingkat kepercayaan dunia terhadap masa depan Indonesia.
Dalam buku Why Nations Fail, Daron Acemoglu dan James A. Robinson menegaskan bahwa kualitas institusi, tata kelola, dan integritas negara sangat menentukan kekuatan ekonomi suatu bangsa.
Negara yang korupsinya tinggi akan sulit memiliki mata uang yang kuat.
Negara yang lebih bangga menjadi konsumen daripada produsen akan sulit memiliki kurs yang stabil.
Negara yang terlalu sibuk dengan kegaduhan politik tetapi lambat membangun industri dan teknologi akan terus rentan terhadap tekanan global.
Karena mata uang pada akhirnya bukan hanya soal ekonomi. Mata uang adalah soal kepercayaan.
Dan kepercayaan tidak dibangun dengan slogan.
Mentalitas Konsumtif Sedang Menggerogoti Bangsa
Ada persoalan lain yang jarang dibahas secara jujur: Indonesia semakin terjebak dalam budaya konsumtif.
Produk impor diburu. Barang luar negeri dianggap lebih bergengsi. Gaya hidup dipertontonkan setiap hari di media sosial. Utang konsumtif meningkat. Pamer kemewahan menjadi budaya baru.
Seseorang rela mengganti telepon genggam yang sebenarnya masih baik hanya demi gengsi sosial. Sebagian masyarakat lebih bangga memakai produk luar negeri dibanding karya anak bangsa sendiri. Bahkan tidak sedikit yang terjebak pinjaman online demi mempertahankan gaya hidup semu.
Tetapi bangsa besar tidak dibangun dari budaya pamer.
Dalam The Competitive Advantage of Nations, Michael Porter menjelaskan bahwa kekuatan bangsa dibangun melalui produktivitas, inovasi, teknologi, dan daya saing industri nasional.
Jepang, Korea Selatan, dan China menjadi kuat bukan karena sibuk menjadi pasar, tetapi karena membangun disiplin, industri, teknologi, riset, dan etos kerja nasional.
Sementara Indonesia terlalu lama menikmati posisi sebagai pasar besar bagi produk asing.
Yang Paling Terpukul Tetap Rakyat Kecil
Setiap kali rupiah melemah, yang paling berat menanggung dampaknya bukanlah elite.
Rakyat kecil yang paling merasakan: harga kebutuhan naik, biaya usaha meningkat, ongkos hidup membengkak, dan lapangan pekerjaan semakin sulit.
Seorang pedagang kecil harus membeli bahan baku dengan harga lebih mahal. Nelayan harus membeli solar dengan biaya lebih tinggi. Pelaku UMKM kesulitan membeli barang produksi karena harga impor meningkat. Bahkan pekerja kantoran mulai mengurangi pengeluaran karena khawatir keadaan semakin berat.
Ketika biaya impor naik, harga barang ikut naik. Ketika industri tertekan, PHK bisa terjadi. Ketika daya beli turun, ekonomi rakyat ikut melemah.
Peraih Nobel Ekonomi Joseph E. Stiglitz dalam bukunya Globalization and Its Discontents menjelaskan bahwa gejolak ekonomi global hampir selalu lebih berat dirasakan negara berkembang dan kelompok masyarakat bawah.
Karena itu pelemahan rupiah bukan sekadar berita ekonomi di televisi. Ia adalah persoalan sosial yang menyentuh dapur rakyat kecil.
Sikap yang Tepat Menghadapi Situasi Ini
Dalam kondisi seperti ini, masyarakat tidak boleh panik, tetapi juga tidak boleh lengah.
Memborong dollar secara berlebihan, menyebarkan ketakutan, atau hidup semakin konsumtif hanya akan memperburuk keadaan.
Yang dibutuhkan justru ketenangan dan kedewasaan ekonomi.
Masyarakat perlu mulai: mengurangi pengeluaran yang tidak penting, menghindari utang konsumtif, memperkuat dana darurat, memperbesar tabungan produktif, memperkuat usaha riil, dan meningkatkan keterampilan diri.
Ini saatnya membedakan antara kebutuhan dan gengsi.
Para elite politik juga harus berhenti membuat kegaduhan yang memperburuk kepercayaan publik dan investor. Dalam situasi ekonomi yang sensitif, stabilitas nasional menjadi sangat penting.
Pemerintah harus serius menjaga stabilitas pangan, energi, dan industri nasional, sekaligus memastikan rakyat kecil tetap terlindungi.
Indonesia Harus Berhenti Menjadi Bangsa Pasar
Pelemahan rupiah seharusnya menjadi alarm keras bagi bangsa ini.
Indonesia tidak boleh terus menerus hanya menjadi: pasar bagi produk asing, penjual bahan mentah, dan konsumen teknologi luar negeri.
Karena itu, hilirisasi tidak boleh berhenti sebagai slogan politik semata. Indonesia harus benar-benar mampu mengubah kekayaan alam menjadi kekuatan industri nasional yang bernilai tambah tinggi.
Dalam The Mystery of Capital, Hernando de Soto menekankan pentingnya kepastian hukum, produktivitas ekonomi, dan pembangunan institusi nasional dalam memperkuat ekonomi negara berkembang.
Bangsa ini harus mulai serius membangun: industri nasional, riset dan inovasi, pendidikan berkualitas, serta pemberantasan korupsi yang sungguh-sungguh.
Karena bangsa yang kuat bukan bangsa yang paling banyak berbicara tentang nasionalisme, tetapi bangsa yang mampu berdiri di atas kekuatan ekonominya sendiri.
Krisis Harus Menjadi Momentum Introspeksi
Dalam Islam, krisis bukan hanya dipandang sebagai persoalan ekonomi, tetapi juga momentum muhasabah.
Ekonom Muslim Muhammad Umer Chapra dalam bukunya Islam and the Economic Challenge menjelaskan bahwa krisis ekonomi sering kali berkaitan dengan ketimpangan moral, keserakahan, dan ketidakseimbangan sosial dalam pembangunan manusia.
Allah SWT berfirman:
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)
Krisis seharusnya mengajarkan manusia untuk hidup lebih sederhana, bekerja lebih produktif, mengurangi keserakahan, dan memperkuat solidaritas sosial.
Karena sesungguhnya, nilai rupiah bukan hanya ditentukan oleh cadangan devisa atau suku bunga.
Nilai rupiah pada akhirnya ditentukan oleh kualitas manusianya.
Dan jika bangsa ini terus lebih bangga menjadi konsumen daripada pencipta, maka bukan hanya rupiah yang melemah, tetapi juga martabat ekonomi Indonesia di hadapan dunia.






