Bisnis  

Sebelum Mengembangkan Bisnis, Mengapa Studi Kelayakan dan Business Plan Harus Disusun Secara Terintegrasi?

Business Plan
Foto: Studi Kelayakan Bisnis

Cakrawalaindonesia.id – Memiliki ide bisnis yang menarik belum berarti bisnis tersebut siap dijalankan. Sebelum modal dikeluarkan, perusahaan perlu memahami pasar, model bisnis, kebutuhan investasi, struktur biaya, strategi pemasaran, serta potensi keuntungan. Karena itu, jasa pembuatan studi kelayakan dapat menjadi dua instrumen penting dalam proses perencanaan bisnis.

Keduanya memiliki fungsi berbeda. Studi kelayakan lebih banyak digunakan untuk menguji apakah sebuah rencana layak dijalankan, sedangkan business plan membantu menjelaskan bagaimana bisnis tersebut akan dijalankan dan dikembangkan.

Studi Kelayakan Menguji Apakah Ide Bisnis Layak

Studi kelayakan biasanya melihat bisnis dari berbagai aspek, mulai dari pasar, teknis, operasional, legal, manajemen, hingga finansial.

Pertanyaan yang ingin dijawab antara lain:

  • Apakah terdapat pasar yang cukup?
  • Siapa target konsumennya?
  • Seberapa besar persaingannya?
  • Berapa kebutuhan investasinya?
  • Berapa potensi pendapatannya?
  • Kapan investasi dapat kembali?
  • Apa risiko terbesar proyek?
  • Apakah tingkat pengembaliannya sebanding dengan modal yang dikeluarkan?

Dengan demikian, jasa pembuatan studi kelayakan dapat membantu investor memperoleh dasar analisis sebelum mengambil keputusan investasi.

Business Plan Menjelaskan Cara Bisnis Dijalankan

Jika studi kelayakan menjawab “apakah layak?”, business plan lebih banyak menjawab “bagaimana bisnis ini akan dijalankan?”

Business plan dapat mencakup:

  • konsep bisnis;
  • produk atau layanan;
  • target pasar;
  • strategi pemasaran;
  • model pendapatan;
  • struktur organisasi;
  • rencana operasional;
  • kebutuhan sumber daya;
  • proyeksi penjualan;
  • kebutuhan modal;
  • serta rencana pengembangan.

Karena itu, jasa bisnis plan dapat digunakan perusahaan untuk menerjemahkan konsep bisnis menjadi rencana yang lebih terstruktur.

Keduanya Saling Melengkapi

Studi kelayakan dan business plan tidak harus dipandang sebagai dua dokumen yang berdiri sendiri.

Misalnya perusahaan ingin membangun hotel. Studi kelayakan dapat digunakan untuk menganalisis potensi pasar, kompetitor, tingkat okupansi, kebutuhan investasi, biaya operasional, proyeksi cash flow, IRR, NPV, dan risiko.

Setelah konsep tersebut dinilai layak, business plan dapat menjelaskan bagaimana hotel akan dipasarkan, siapa target konsumennya, bagaimana strategi pricing diterapkan, bagaimana operasional dijalankan, serta bagaimana perusahaan mencapai target pendapatan.

Jangan Membuat Proyeksi Berdasarkan Asumsi Semata

Salah satu bagian paling penting dalam kedua kajian tersebut adalah asumsi.

Proyeksi penjualan, misalnya, tidak seharusnya muncul hanya karena pemilik bisnis memperkirakan produknya akan laku. Asumsi tersebut perlu dikaitkan dengan ukuran pasar, target konsumen, kompetitor, harga, kapasitas, dan strategi pemasaran.

Hal yang sama berlaku untuk biaya dan kebutuhan investasi. Semakin realistis asumsi yang digunakan, semakin berguna hasil analisisnya untuk pengambilan keputusan.

Financial Model Menjadi Penghubung

Baik studi kelayakan maupun business plan membutuhkan financial model yang konsisten.

Sederhananya:

Market ? Target Customer ? Sales ? Revenue ? Cost ? Profit ? Cash Flow

Kemudian untuk investasi dapat dilanjutkan dengan:

Cash Flow ? NPV ? IRR ? Payback Period ? Sensitivity Analysis

Dengan struktur tersebut, perusahaan dapat melihat hubungan antara strategi bisnis dengan dampak finansialnya.

Kapan Membutuhkan Studi Kelayakan?

Jasa pembuatan studi kelayakan biasanya semakin relevan ketika perusahaan akan menjalankan proyek dengan kebutuhan investasi besar atau tingkat ketidakpastian yang tinggi.

Contohnya:

  • pembangunan hotel;
  • proyek properti;
  • pabrik;
  • rumah sakit;
  • kawasan komersial;
  • cold storage;
  • ekspansi bisnis;
  • proyek infrastruktur;
  • maupun investasi pada bisnis baru.

Tujuannya bukan sekadar menghasilkan laporan, tetapi membantu investor memahami potensi, risiko, kebutuhan modal, dan tingkat pengembalian investasi.

Kapan Membutuhkan Business Plan?

Sementara itu, jasa bisnis plan dapat lebih relevan ketika perusahaan membutuhkan dokumen dan kerangka strategis untuk menjalankan atau mengembangkan bisnis.

Business plan dapat digunakan untuk:

  • memulai bisnis baru;
  • ekspansi;
  • mencari investor;
  • pengajuan pendanaan;
  • pengembangan produk;
  • membuka cabang;
  • restrukturisasi strategi;
  • maupun menyusun target pertumbuhan perusahaan.

Business plan yang baik seharusnya tidak hanya menjelaskan visi, tetapi juga menunjukkan bagaimana visi tersebut diterjemahkan menjadi strategi dan angka.

Grapadi Menghubungkan Analisis dan Strategi

Dalam pendekatan konsultasi bisnis, Grapadi Konsultan dapat menempatkan studi kelayakan dan business plan sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan yang lebih luas.

Studi kelayakan membantu menguji peluang dan risiko.

Business plan membantu menerjemahkan keputusan tersebut menjadi strategi bisnis.

Dengan menghubungkan keduanya, perusahaan dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh dari potensi pasar ? strategi ? operasional ? investasi ? keuangan ? risiko.

Studi kelayakan dan business plan memiliki tujuan yang berbeda, tetapi keduanya dapat saling memperkuat. Jasa studi kelayakan membantu menjawab apakah sebuah proyek atau investasi layak dilakukan, sementara jasa bisnis plan membantu menjelaskan bagaimana bisnis tersebut akan dijalankan dan dikembangkan.

Bagi perusahaan yang sedang menyiapkan investasi, ekspansi, maupun bisnis baru, menggabungkan keduanya dapat membantu mengurangi keputusan yang hanya berdasarkan intuisi dan menggantinya dengan perencanaan yang lebih terukur, berbasis data, dan berorientasi pada hasil bisnis.