(Cakrawalaindonesia.id) — Temanku, sebut saja I, pernah bercerita dengan mata berkaca. Tentang masa mudanya yang tak pernah lepas dari rokok. Satu batang, dua batang, hingga berbungkus-bungkus. Asapnya menari di udara, seolah jadi teman setia. Tahun 2003, sebelum menikah, hampir setiap saat ia ditemani si “setan dua inci”, istilah puitis yang pernah dilontarkan Taufik Ismail rahimakumullah.
Setelah menikah, bahagianya tak sempurna. Tahun demi tahun berlalu, tapi rumah mungil mereka masih sunyi dari tangis bayi. Ikhtiar dilakukan ke sana kemari dokter, pengobatan alternatif, doa malam, bahkan sedekah yang diperbanyak. Tapi tak juga membuahkan hasil.
Hingga suatu hari, dokter menyarankan sesuatu yang tak ia duga: “Coba cek sperma, Pak.”
Ia menuruti. Saat hasilnya diperlihatkan di bawah mikroskop, ia terdiam. Terlihat sekumpulan makhluk kecil tapi sebagian besar lemas, tak bertenaga. Dokter menjelaskan dengan jujur, “Kalau Bapak sungguh ingin punya anak, berhentilah merokok. Itu sumber masalahnya.”
Hari itu, dengan berat hati, ia menceraikan rokok demi mendapatkan hati. Hari-hari berikutnya penuh perjuangan: mulut pahit, tangan gatal, dan kepala pening. Tapi ia bertahan. Ia ingin merasakan panggilan “Ayah” dari mulut kecil seorang anak.
Beberapa bulan kemudian, hasil pemeriksaan menunjukkan perubahan drastis. “Spermanya sekarang aktif, sehat, dan normal,” kata dokter dengan senyum. Ia sujud syukur. Dan tak lama setelah itu, istrinya hamil.
Ketika bayi laki-laki itu lahir, tangisnya di ruang bersalin menggema lebih dari sekadar suara. Itu gema kemenangan melawan candu, gema kasih yang lahir dari tekad untuk berhenti.
Namun, tiga tahun kemudian, kabar yang kudengar membuat dadaku sesak. Ia kembali pada kebiasaan lamanya. Asap kembali keluar dari mulutnya, mencemari udara, mengusik paru orang di sekitarnya.
“Kan sudah punya anak,” begitu pembenarannya. Tapi waktu membuktikan: setelah itu, tak lagi datang keturunan. Bertahun-tahun mencoba, tak juga berhasil. Kini, anak tunggalnya beranjak remaja, sementara ia masih bergulat dengan penyesalan dan nikotin.
“Kadang sadar itu datang terlambat,” katanya lirih, di sela batuk yang terdengar berat.
Rokok memang tak langsung membunuh. Tapi perlahan mencabut nikmat demi nikmat: napas yang sehat, rasa, bahkan harapan. Di bungkusnya sudah tertulis, “Merokok menyebabkan impotensi dan gangguan kesuburan.” Tapi manusia sering merasa kebal sampai bukti menampar dirinya sendiri.
Aku hanya bisa berdoa, semoga ia kembali diberi kekuatan untuk berhenti. Karena sejatinya, berhenti merokok bukan sekadar menyelamatkan diri sendiri tapi juga menjaga doa orang yang kita cintai tetap punya tempat untuk terkabul.
Pesan
Berhentilah sebelum terlambat. Karena setiap kepulan asap mungkin membawa pergi satu harapan yang belum sempat tumbuh.
Pangkalan Kerinci, Pelalawan, 11 Nopember 2025






