BALI  

Universitas Bali Dwipa dan Nitibasa Well Being Satukan Pendidikan, Kesehatan Mental, dan UMKM

Universitas Bali Dwipa
Foto: Nitibasa Well Being

DENPASAR(Cakrawalaindonesia.id) — Pendidikan tidak hanya berbicara tentang capaian akademik. Kemampuan mengenali diri, menjaga kesehatan mental, membangun resiliensi, hingga mempersiapkan siswa menghadapi pilihan pendidikan dan karier menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.

Perspektif tersebut menjadi salah satu fokus dalam Workshop “Guru Berdampak, Siswa Berdaya” yang digelar melalui kolaborasi Universitas Bali Dwipa dan Nitibasa Well Being Foundation, Jumat (21/8/2026), di Universitas Bali Dwipa, Denpasar, Bali.

Kegiatan mengangkat tema “Membangun Kesehatan Mental, Resiliensi, & Self-Awareness untuk Masa Depan Bermakna” dan mempertemukan guru Bimbingan dan Konseling (BK), siswa, akademisi, komunitas, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Workshop tersebut menghadirkan Achmad Fauzi, S.Psi., M.Psi., Psikolog dengan materi teknik konseling dan Ni Made Pradnya Amadeandra Kusuma, M.Psi., Psikolog yang membahas perkembangan remaja.

Peserta kegiatan ditujukan bagi guru BK tingkat SMA/SMK yang hadir bersama dua siswa.

Mendorong Layanan BK yang Lebih Dekat dengan Kebutuhan Siswa

Sejumlah topik yang dibahas dalam kegiatan antara lain strategi pendampingan kesehatan mental siswa, penguatan layanan BK berbasis well-being, tes minat dan bakat, serta pengembangan self-awareness dalam menentukan jurusan dan arah karier.

Pendekatan tersebut menempatkan guru BK tidak hanya sebagai pihak yang menangani persoalan siswa ketika muncul masalah, tetapi juga sebagai bagian dari proses pendampingan perkembangan siswa.

Di tengah perubahan lingkungan belajar dan tantangan yang dihadapi generasi muda, kemampuan siswa memahami dirinya sendiri dinilai menjadi salah satu bekal penting dalam menentukan pilihan pendidikan maupun masa depan.

UMKM dan Komunitas Ikut Menjadi Bagian Ekosistem

Rangkaian kegiatan juga dilengkapi dengan UMKM Expo yang menghadirkan pelaku UMKM dan komunitas dari berbagai bidang.

Peserta expo mencakup usaha kuliner, makanan dan minuman, kriya, fashion, kerajinan tangan, produk kesehatan, produk berbasis bahan lokal, hingga komunitas yang bergerak di bidang pengembangan diri, kewirausahaan, serta jejaring bisnis.

Di antara peserta yang terlibat terdapat Morebakery, UMKM Warung Sasti, Pertenunan Astiti, Mang Kakul, Pasar Kecil Bumi Bali Sembada, UMKM Maju Bersama, The Bless Shop, Minyak Balur Pitulung, Palapalalab, Verastpro, Takara Consulting Group, Beady Peasy x Dapur Hochija, UMAH RORO, dan Dapur Hochija.

Ruang komunitas juga diisi oleh Nitibasa dan IKA UNAIR Bali, serta unsur komunitas dan UMKM dari lingkungan Universitas Bali Dwipa.

Kehadiran UMKM dan komunitas tersebut tidak sekadar menjadi pelengkap kegiatan. Expo dirancang sebagai ruang pertemuan antara peserta pendidikan, masyarakat, pelaku usaha, dan komunitas.

Pengunjung dapat mengenal produk maupun program secara langsung, sementara peserta expo memperoleh kesempatan memperluas jejaring, memperkenalkan produk, dan membuka peluang kolaborasi.

Mengubah Expo Menjadi Ruang Interaksi

Universitas Bali Dwipa
Foto: Nitibasa Well Being

Salah satu konsep yang digunakan adalah Expo Passport Digital. Pengunjung diarahkan mengunjungi sejumlah booth, berinteraksi dengan peserta, kemudian melakukan verifikasi secara digital.

Sistem tersebut dirancang untuk mendorong pengunjung tidak hanya berhenti di satu booth, tetapi mengenal lebih banyak UMKM dan komunitas yang hadir.

Bagi pelaku usaha, pola tersebut diharapkan dapat menciptakan distribusi pengunjung yang lebih merata sekaligus membuka peluang terjadinya transaksi maupun jejaring baru.

Peserta juga dapat menggunakan berbagai bentuk aktivasi, seperti product demonstration, tester, permainan sederhana, konsultasi, promosi, maupun QR Code yang menghubungkan pengunjung dengan kanal digital masing-masing.

Kampus Sebagai Ruang Kolaborasi

Kolaborasi Universitas Bali Dwipa dan Nitibasa Well Being Foundation memperlihatkan upaya memperluas fungsi kampus sebagai ruang interaksi antara pendidikan dan masyarakat.

Universitas Bali Dwipa menjadi ruang berlangsungnya kegiatan pendidikan sekaligus pertemuan berbagai komunitas dan pelaku UMKM. Sementara Nitibasa Well Being Foundation membawa fokus pada isu well-being, pendidikan, pengembangan potensi, dan pemberdayaan masyarakat.

Dengan mempertemukan guru, siswa, psikolog, UMKM, komunitas, dan lingkungan akademik, kegiatan ini diharapkan dapat membangun jejaring yang tidak berhenti pada pelaksanaan acara.

Pendidikan yang berdampak membutuhkan ekosistem. Begitu pula UMKM dan komunitas membutuhkan ruang untuk tumbuh bersama.

Melalui kegiatan tersebut, Universitas Bali Dwipa dan Nitibasa Well Being Foundation mendorong terbentuknya ruang kolaborasi yang mempertemukan pendidikan, kesehatan mental, kewirausahaan, komunitas, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu ekosistem.

Harapannya, kolaborasi tersebut dapat terus berkembang menjadi berbagai kegiatan bersama yang memberikan manfaat bagi siswa, pendidik, pelaku UMKM, komunitas, dan masyarakat secara lebih luas.