Oleh: Ade Marpudin
Ketua STES Bhakti Nugraha dan Ketua Umum Forum Komunikasi Nasional- Ikatan Dosen Ekonomi Syariah Indonesia (IDESy-Indonesia PTKIS)
Peluit panjang itu akhirnya berbunyi. Dunia pun tahu. Raja sepak bola dunia berganti adalah Spanyol. Tidak dengan pesta gol. Tidak pula dengan kemenangan yang meledak-ledak. Cukup satu gol.
Satu gol yang mengubah sejarah. Satu gol yang lahir bukan karena keberuntungan, melainkan karena kesabaran. Karena disiplin. Karena keyakinan bahwa tekanan yang terus-menerus pada akhirnya akan menemukan celah.
Argentina sebenarnya bertahan dengan luar biasa. Mereka menunggu. Mereka sabar. Sesekali melakukan serangan balik yang membuat jantung lawan berdegup lebih cepat.
Tetapi sepak bola modern memiliki hukum yang sederhana. Tim yang terus menciptakan peluang memiliki kemungkinan lebih besar untuk menang dibandingkan tim yang hanya berharap kesalahan lawan.
Spanyol tidak tergesa-gesa.Mereka membangun permainan dari belakang. Bola berpindah dari kaki ke kaki. Dari sisi kiri-ke tengah. Lalu ke kanan. Kembali lagi ke tengah. Begitu terus. Sampai pertahanan Argentina kehilangan ritme. Lalu… Gol itu datang. Saya justru tidak terlalu menikmati golnya, tapi Saya menikmati proses sebelum gol itu terjadi. Karena di sanalah sesungguhnya kemenangan dibangun.
Saya kemudian berpikir. Bukankah bisnis juga begitu?, Banyak pengusaha ingin hasil. Sedikit yang menikmati proses. Mereka ingin omzet naik. Tetapi tidak mau membangun sistem. Mereka ingin pelanggan datang. Tetapi tidak mau membangun kepercayaan. Mereka ingin usahanya besar. Tetapi masih mengelola usaha dengan cara-cara kecil.
Padahal, pasar hari ini tidak lagi menunggu. Pasarlah yang bergerak. Kitalah yang harus mengejarnya. Persis seperti permainan Spanyol. Mereka tidak menunggu bola. Mereka mengejar ruang. Dalam bisnis, ruang itu bernama peluang.
Ada pelajaran menarik dari perjalanan Spanyol menuju gelar juara dunia. Tidak banyak pemain yang sibuk menggiring bola terlalu lama. Yang banyak justru operan. Cepat, pendek dan akurat. Mereka percaya pada rekannya sendiri. Itulah modal terbesar sebuah organisasi adalah Kepercayaan. Sayangnya, banyak perusahaan justru kehilangan itu.
Pemilik usaha merasa hanya dirinya yang paling benar. Semua keputusan harus melewati dirinya. Semua pekerjaan harus dilihat sendiri. Semua harus menunggu instruksinya. Lama-lama perusahaan itu bukan tumbuh, malah kelelahan.
Sepak bola mengajarkan sesuatu, tidak ada pemain yang bisa mencetak gol sendirian dari garis gawangnya sendiri. Ia membutuhkan rekan. Bisnis pun demikian. Tidak ada perusahaan besar yang dibangun oleh satu orang.
Seperti yang dikatakan oleh Henry Ford “Coming together is a beginning. Keeping together is progress. Working together is success.” Datang bersama adalah awal. Tetap bersama adalah kemajuan dan bekerja bersama adalah kesuksesan.
Hal lain yang menarik adalah keberanian Spanyol menyerang. Mereka tidak takut kehilangan bola. Karena mereka tahu cara merebutnya kembali. Dalam dunia usaha, banyak pelaku bisnis justru takut mencoba. Takut membuka pasar baru. Takut masuk ke platform digital. Takut menggunakan kecerdasan buatan. Takut membuat inovasi dan takut gagal.
Padahal yang lebih berbahaya bukan kegagalan, melainkan berhenti berubah. Seperti dijelaskan oleh Charles Darwin pernah menulis sesuatu yang sangat relevan bagi dunia usaha “Bukan yang paling kuat yang mampu bertahan. Bukan pula yang paling pintar. Tetapi mereka yang paling cepat beradaptasi terhadap perubahan.”
Kalimat itu seperti sedang berbicara kepada pelaku UMKM Indonesia. Hari ini pelanggan berubah, cara belanja berubah, cara beriklan berubah dan cara membangun kepercayaan juga berubah. Jika strategi masih sama seperti sepuluh tahun lalu, jangan heran bila hasilnya juga tertinggal sepuluh tahun.
Di era digital, pertandingan bisnis berlangsung selama dua puluh empat jam. Tidak ada peluit babak pertama. Tidak ada jeda turun minum, tidak ada waktu tambahan yang ada hanyalah perubahan. Setiap hari. Setiap jam. Setiap menit. Pesaing bisa datang dari kota lain, bahkan dari negara lain.
Mereka tidak membuka toko di depan rumah kita, mereka cukup membuka toko di telepon genggam pelanggan kita. Itulah sebabnya strategi menjadi jauh lebih penting daripada sekadar modal.
Peter Drucker pernah mengingatkan “The greatest danger in times of turbulence is not the turbulence itself, but to act with yesterday’s logic.” Bahaya terbesar bukanlah perubahan, melainkan menghadapi perubahan dengan cara berpikir masa lalu.
Piala Dunia 2026 telah selesai. Trofi telah diangkat tinggi. Lagu kemenangan telah dinyanyikan. Raja baru sepak bola dunia kini bernama Spanyol. Namun sesungguhnya, yang menjadi juara bukan hanya sebuah negara, tapi yang menang adalah filosofi.
Filosofi tentang kerja sama, tentang kesabaran, tentang disiplin, tentang keberanian menyerang. Tentang kemampuan membaca permainan. Dan yang paling penting… tentang tidak pernah berhenti bergerak.
Karena dalam sepak bola maupun bisnis, kemenangan tidak pernah diberikan kepada mereka yang hanya bertahan. Kemenangan selalu berpihak kepada mereka yang berani membangun strategi, cerdas menjalankan taktik, kompak sebagai tim, dan terus mencari ruang di tengah rapatnya persaingan. Itulah sebabnya Spanyol menjadi kampiun dunia.
Dan itulah pula sebabnya setiap pelaku usaha Indonesia memiliki peluang menjadi kampiun di pasarnya masing-masing. Lapangannya berbeda. Bolanya berbeda. Lawan-lawannya berbeda, tetapi rumus kemenangan tetap sama. Untuk itu Strategi yang tepat. Eksekusi yang disiplin. Inovasi yang berkelanjutan. Dan tim yang percaya satu sama lain dalam sebuah tim.






