Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here

Perjalanan Dakwah Menuntun Syahadat Suku Wana Morut

Dakwah

Oleh: Ahkum Rizal Abu Fathi

Perjalanan kami dari Jakarta menuju Bandara Aminuddin Luwuk Kabupaten Banggai transit di Makassar, lalu setelah dari Luwuk Banggai kami melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Morowali Utara.

Kami singgah di Kota Morowali Utara lewat pelabuhan kapal Kolonadale untuk mengisi kajian di beberapa masjid dengan tema perbandingan agama, yang di isi oleh mantan pendeta Ust DR Ahmad Kainama — semoga Allah jaga beliau.

Dari Bandara Luwuk ini perjalanan dapat ditempuh selama 5 jam darat dan 5 jam perjalanan laut baru tiba di kota Kabupaten Morowali Utara.

Setelah 2 hari di sana, kami melanjutkan penyeberangan lewat kapal lagi, balik arah 5 jam perjalanan laut. Sambil istirahat malam, barulah di pagi harinya kami melalui jalanan dengan mobil double gardan bak terbuka, hanya kamilah penumpangnya. Perjalanan ini hanya sampai di Desa Salebiru. Perjalanan menuju Desa ini memakan waktu 5 jam.

Setelah dari Desa Salebiru ini kami menuju Dusun Lambentana. Dusun Lambentana ini lah lokasi dimana pensyahadatan massal akan dilaksanakan, yaitu titik acara puncak penuntunan syahadat.

Kami melanjutkan perjalanan dengan menumpang ojek sepeda motor warga setempat, dengan biaya 250 ribu dengan jarak tempuh perjalanan kurang lebih 3 jam. Itupun harus bersiap-siap kalau-kalau motor terbalik. Saya sendiri sempat terjatuh 4 kali, subhanallah jalan sangat licin karena malamnya habis di guyur hujan.

Terkadang kami harus berjalan kaki dengan melewati sungai bebatuan, itupun 3 sungai harus kami lewati. Hampir-hampir badan ini menyerah, tapi insya Allah karena tekad yang kuat itu selalu hadir membersamai agama yang hanif di tengah jiwa yang bergejolak tanpa ketenangan di hati Suku Wana. Kami harus tuntun mereka mengucapkan 2 kalimat syahadat tanda ucapan yang sakral ketika mereka ingin tenang dengan agama Islam yang hanif.

Setelah perjalanan cukup melelahkan akhirnya tibalah kami di Dusun Lambentana kurang lebih bakda sholat Ashar. Masya Allah dengan hati yang lega terbayar juga capeknya, lelah tak berupah karena Lillah kami hadir untuk Suku Wana

Pagi hari mulailah pensyahadatan kurang lebih 80 orang dan sisanya akan menyusul 50 orang lagi. Insya Allah karena mereka baru di beri tahu kawan-kawan mereka yang lain di balik gunung — info dari Ust Sigit selaku ustadz yang mengawal dakwah-dakwah di pedalaman ini.

Sahabat. Kami bukanlah sepuluh sahabat Nabi yang dijamin masuk syurga.

Kami bukanlah sahabat Nabi bernama Amr bin Ash sang pembebas negeri Mesir dari cengkaraman imperium Romawi.

Kami bukanlah sahabat Nabi yang bernama Ushairim bin Abdil Asyhal yang masuk syurga tanpa pernah melaksanakan sholat, karena mati syahid setelah ikut perang, Ia baru saja mengucapkan kalimat Asy hadu Alla ilaha ilallah.

Tapi, kami hanya manusia biasa yang berharap dari timbangan di kemudian hari ada tetesan keringat yang berpeluh untuk menjadi pemberat amal kita bersama.

Oleh karena itu harapan dari kepala Suku Wana Bapak Tadaung — dengan Bahasa Wana diterjemahkan orang lain — tidaklah banyak:
1. Tolong bimbing kami dalam ber-Islam.
2. Bantu kami dalam membuat rumah sederhana — selama ini mereka tinggal berpindah-pindah dari pohon ke pohon.
3. Bantu arahkan kami dalam bertani yang baik.

Kami menjawab insya Allah semoga banyak kaum muslimin yang Allah gerakkan hatinya.

Barokallahufiikum

Luwuk, 09 November 2020

***

YAYASAN YAMIMA

Jalan Batu Giok 2 no 110 Bojong Rawa Lumbu Bekasi.

Ahkum Rizal Abu Fathi
0852 1861 6689.

Penulis: Ahkum Rizal Abu FathiEditor: M Syari Faidar