JATIM  

Membangun Organisasi dari Nol, Reza Nafi Rizqi Musyaffa (Afa) Menjalani Perjalanan Kepemimpinan di Dunia Mahasiswa

SURABAYA – Kepemimpinan mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan jabatan dalam organisasi, tetapi juga kemampuan membangun sistem, menyatukan individu dengan latar belakang berbeda, dan menjaga agar sebuah inisiatif dapat terus berkembang. Prinsip tersebut menjadi bagian dari perjalanan Reza Nafi Rizqi Musyaffa, yang akrab disapa Afa, mahasiswa S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Airlangga (UNAIR).

Screenshot

Salah satu pengalaman yang menandai perjalanan kepemimpinannya adalah mendirikan 180 Degrees Consulting UNAIR dan menjadi presiden pertamanya. Melalui peran tersebut, Afa terlibat dalam pengembangan organisasi mahasiswa yang berfokus pada konsultasi dan penyelesaian masalah. Pengalaman membangun organisasi menjadi ruang pembelajaran mengenai bagaimana gagasan dapat diterjemahkan menjadi struktur, program kerja, dan kolaborasi tim.

Di tengah aktivitas akademik, Afa juga mengembangkan berbagai inisiatif lain dalam bidang pendidikan dan pengembangan mahasiswa. Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman di perguruan tinggi dapat menjadi ruang untuk mengeksplorasi kepemimpinan, mengelola tanggung jawab, dan memahami proses membangun sesuatu secara berkelanjutan.

Memulai dari Sebuah Gagasan

Mendirikan organisasi membutuhkan lebih dari sekadar ide. Sebuah inisiatif perlu memiliki tujuan yang jelas, struktur kerja, pembagian tanggung jawab, serta orang-orang yang bersedia bergerak bersama untuk mewujudkannya.

Dalam konteks 180 Degrees Consulting UNAIR, pendirian organisasi menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang bagi mahasiswa untuk mengenal pendekatan konsultasi dan penyelesaian masalah. Peran sebagai founder sekaligus presiden pertama menempatkan Afa dalam posisi yang berkaitan dengan tahap awal pengembangan organisasi.

Pada tahap tersebut, kepemimpinan tidak hanya berbicara tentang menentukan arah, tetapi juga membangun fondasi agar aktivitas organisasi dapat berjalan. Hal ini mencakup penyelarasan tujuan, koordinasi anggota, dan pengembangan cara kerja yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Pengalaman membangun organisasi dari awal juga memberikan perspektif bahwa pertumbuhan tidak terjadi secara instan. Diperlukan proses untuk membentuk budaya kerja, mengembangkan kapasitas anggota, serta memastikan bahwa setiap individu memahami peran dan tanggung jawabnya.

Kepemimpinan Bukan Sekadar Jabatan

Dalam organisasi mahasiswa, seorang pemimpin berhadapan dengan beragam karakter, motivasi, dan prioritas anggota. Kondisi tersebut membuat kemampuan komunikasi dan koordinasi menjadi bagian penting dari proses kepemimpinan.

Pemimpin perlu menyampaikan arah organisasi secara jelas sekaligus memberikan ruang bagi anggota untuk berkontribusi. Di sisi lain, pembagian tugas yang realistis dan evaluasi berkala membantu organisasi menjaga konsistensi pelaksanaan program.

Pengalaman memimpin organisasi juga dapat membantu mahasiswa memahami bahwa hasil kerja merupakan kontribusi kolektif. Keberhasilan suatu program tidak hanya bergantung pada satu orang, melainkan pada koordinasi tim, kualitas pelaksanaan, dan kemampuan setiap anggota menjalankan tanggung jawabnya.

Bagi mahasiswa yang sedang mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional, pengalaman tersebut dapat menjadi ruang latihan untuk mengembangkan kemampuan bekerja dalam tim, menyelesaikan masalah, dan mengelola berbagai kepentingan secara terstruktur.

Menghubungkan Manajemen dengan Praktik Organisasi

Sebagai mahasiswa Manajemen, Afa mempelajari berbagai konsep yang berkaitan dengan pengelolaan organisasi dan pengambilan keputusan. Pengalaman organisasi memberikan konteks praktis untuk memahami bahwa penerapan konsep manajemen membutuhkan penyesuaian terhadap kondisi nyata.

Perencanaan, misalnya, perlu diterjemahkan menjadi langkah kerja yang dapat dijalankan. Pembagian tanggung jawab harus mempertimbangkan kapasitas anggota, sedangkan evaluasi diperlukan untuk melihat apakah program yang dilaksanakan telah sesuai dengan tujuan awal.

Dalam praktiknya, organisasi juga dapat menghadapi keterbatasan waktu, sumber daya, dan kapasitas tim. Situasi tersebut menuntut pengurus untuk menentukan prioritas dan mencari pendekatan yang paling sesuai dengan kondisi yang tersedia.

Pengalaman seperti ini membuat kegiatan organisasi relevan sebagai pelengkap pembelajaran akademik. Mahasiswa memiliki kesempatan untuk memahami dinamika pengelolaan tim sekaligus mengevaluasi pendekatan yang digunakan ketika menghadapi permasalahan.

Prestasi sebagai Bagian dari Perjalanan Pengembangan Diri

Selain pengalaman kepemimpinan, Afa memiliki sejumlah pencapaian selama menempuh pendidikan di Universitas Airlangga. Ia merupakan penerima Beasiswa Unggulan 2024, Mahasiswa Berprestasi I FEB UNAIR 2024, dan Student of the Year FEB UNAIR 2025. Ia juga tercatat sebagai penerima tiga beasiswa program pertukaran pelajar.

Berbagai pencapaian tersebut berjalan beriringan dengan aktivitas akademik, organisasi, dan pengembangan inisiatif pribadi. Perjalanan ini menunjukkan bahwa kehidupan mahasiswa dapat menjadi ruang untuk mengeksplorasi berbagai bidang, selama aktivitas yang dijalankan tetap disesuaikan dengan kapasitas dan prioritas masing-masing.

Namun, pengembangan diri tidak hanya diukur melalui penghargaan atau posisi yang pernah diperoleh. Pengalaman menjalankan tanggung jawab, bekerja bersama orang lain, menghadapi keterbatasan, dan mengevaluasi keputusan juga merupakan bagian dari proses belajar.

Dalam konteks kepemimpinan, proses tersebut membantu mahasiswa memahami bahwa membangun kapasitas membutuhkan konsistensi. Jabatan dapat berakhir, tetapi keterampilan dan pelajaran yang diperoleh dari pengalaman organisasi dapat digunakan kembali dalam lingkungan yang berbeda.

Membangun Inisiatif yang Berorientasi pada Mahasiswa

Selain mendirikan 180 Degrees Consulting UNAIR, Afa mengembangkan MabaPath, sebuah startup pendidikan yang berfokus pada pendampingan dan pengembangan mahasiswa. Inisiatif ini mencakup berbagai bidang, seperti beasiswa, kompetisi, organisasi, kepemimpinan, pertukaran pelajar, dan pengembangan karier.

Pengembangan MabaPath menjadi bagian lain dari perjalanannya dalam membangun inisiatif yang berkaitan dengan kebutuhan mahasiswa. Dalam konteks ini, pengembangan produk dan layanan pendidikan membutuhkan pemahaman terhadap persoalan pengguna, penentuan prioritas, serta koordinasi berbagai aktivitas agar tujuan yang ditetapkan dapat dijalankan.

Pengalaman mengembangkan organisasi dan startup memiliki konteks yang berbeda. Organisasi mahasiswa umumnya berfokus pada tujuan dan program bersama, sedangkan startup juga perlu mempertimbangkan keberlanjutan operasional serta kebutuhan pengguna. Meski demikian, keduanya membutuhkan perencanaan, komunikasi, dan kemampuan mengelola sumber daya.

Keterlibatan dalam berbagai inisiatif tersebut menjadi bagian dari eksplorasi Afa terhadap kepemimpinan dan pengembangan organisasi selama masa perkuliahan.

Menjadikan Masa Kuliah sebagai Ruang Bertumbuh

Masa kuliah menyediakan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan melalui berbagai pengalaman di luar kelas. Organisasi, kompetisi, program pertukaran pelajar, proyek profesional, dan kewirausahaan dapat menjadi ruang untuk mengenali minat sekaligus menguji kemampuan dalam situasi nyata.

Pengalaman tersebut tidak harus dijalani sekaligus. Mahasiswa perlu menentukan prioritas berdasarkan tujuan, kapasitas, dan tanggung jawab yang dimiliki. Terlalu banyak aktivitas tanpa arah yang jelas justru dapat membuat proses pengembangan diri menjadi kurang terstruktur.

Perjalanan Afa dalam mendirikan organisasi, mengembangkan startup pendidikan, dan menjalani aktivitas akademik merupakan bagian dari proses eksplorasi tersebut. Setiap pengalaman memiliki tantangan dan kebutuhan yang berbeda, tetapi dapat memberikan pembelajaran mengenai tanggung jawab, kerja sama, dan pengelolaan inisiatif.

Melalui pengalamannya sebagai founder dan presiden pertama 180 Degrees Consulting UNAIR, Afa menjadi bagian dari dinamika mahasiswa yang mencoba mengubah gagasan menjadi organisasi. Perjalanan ini menempatkan kepemimpinan bukan semata-mata sebagai posisi, melainkan sebagai proses membangun arah, menggerakkan kolaborasi, dan menjaga agar sebuah inisiatif memiliki fondasi untuk berkembang.