RIAU  

Kehadiran Presiden Prabowo ke Riau, Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil Riau Kecewa!

Johny Setiawan Mundung
Kehadiran Presiden Prabowo ke Riau, Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil Riau Kecewa!.

PEKANBARU(Cakrawalaindonesia.id) — Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil Riau mendesak Presiden Prabowo memecat Pangdam XIX/Tuanku Tambusai dan Kapolda Riau yang tidak bisa memadamkan api dan yang tidak berani menangkap korporasi yang konsesinya terbakar di bulan Agustus ini.

Dinamisator Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil Riau dari aktivis lingkungan hidup, Johny S. Mundung, mendesak Presiden Prabowo Subianto menurunkan pangkat aparat penegak hukum yang belum menuntaskan kasus karhutla di daerah teritorialnya.

Walaupun sebenarnya Pak Prabowo belum menaikkan pangkat Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan dan Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen Agus Hadi Waluyo, melainkan baru memberikan janji atau syarat kenaikan jabatan jika mereka berhasil memadamkan total sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau secara tuntas, tapi Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil Riau melihat kondisi kabut asap yang semakin tebal.

“Kok Presiden kayak tak punya kepekaan, alias Sence of Crisis, atau Sence of Belonging terhadap derita masyarakat Riau saat ini,” ungkap Johny S. Mundung.

Menaikkan pangkat memang memicu perdebatan publik dan kritik dari berbagai aktivis lingkungan.

Di satu sisi, pendekatan ini dinilai berbeda dari era Presiden Jokowi yang kerap mengancam akan mencopot aparat jika terjadi karhutla.

Namun di sisi lain, pemerintah mengklaim kebijakan ini merupakan bentuk insentif dan ketegasan, agar aparat bekerja maksimal di lapangan.

Padahal rincian fakta terbaru mengenai situasi karhutla dan kebijakan di Riau per Agustus 2026 justru menunjukkan kegagalan aparat keamanan dalam menegakkan hukum kepada korporasi.

Status kebakaran lahan di Riau semakin meluas. Bahkan berdasarkan data BPBD Riau, sepanjang Januari hingga Agustus 2026, total lahan yang terbakar mencapai 16.277,50 hektare.

Kebakaran bulan Agustus menyisakan sekitar 900 hektare lahan yang masih aktif terbakar dan tersebar di 7 titik di Kabupaten Pelalawan, Indragiri Hilir (Inhil), Indragiri Hulu (Inhu), dan Kampar.

Jumlah titik panas tercatat ada 10.514 titik hotspot dan 521 titik api (fire spot) yang terdeteksi selama periode tersebut.

Janji syarat kenaikan jabatan dari Presiden Prabowo saat memimpin rapat koordinasi di Posko Aju Pekanbaru pada Senin, (24/8/2026), mengiris-iris hati dan perasaan masyarakat Riau yang sampai saat ini sudah 2.000 orang terpapar ISPA, termasuk Johny Setiawan Mundung, aktivis lingkungan hidup Riau yang terpapar ISPA sudah 4 hari ini.

Johny Mundung menegaskan, “Beberapa hal terkait apresiasi aparat sangat perlu, tapi kalau kenyataan ada terbakar dan banyak orang sakit, itu namanya menyakiti hati saya dan hati masyarakat Riau,” ungkapnya.

“Tuntaskan sisa 900 hektare dan jebloskan ke penjara perusahaan atau korporasi pemegang konsesi, barulah boleh kenaikan pangkat atau jabatan baru,” harap Johny S. Mundung.

“Pola reward and punishment Prabowo sangat perlu, tapi jangan melukai hati masyarakat adat dan masyarakat Riau yang 8 kabupaten terpapar asap,” katanya.

“Saya menyatakan sikap ini apa adanya, ada apanya masyarakat Riau dengan Kapolda dan Pangdam?? Kami para aktivis tak akan ragu memberi apresiasi yang tinggi atas Green Policy,” tambahnya.

“Namun apresiasi dan penghargaan adalah sesuai hasil karya dan hasil kerja lapangan. Tidak ragu memberi penghargaan jika hasil kerja di lapangan terbukti bagus dalam menekan area kebakaran! Barulah itu dikatakan beres!, mantul!” tegas para senior aktivis di Riau ini.(***)