Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here

Jangan Sepele! Perhatikan 8 Bahasa Tubuh Ini saat Wawancara Kerja

Wawancara Kerja
Jangan Sepele! Perhatikan 8 Bahasa Tubuh Ini saat Wawancara Kerja

Cakrawalaindonesia.id – Sudah latihan untuk wawancara kerja esok hari? Jangan lupa perhatikan bahasa tubuh kamu saat wawancara kerja ya.

Kamu mungkin sudah merapikan CV hingga sempurna, lolos berbagai tes, dan berlatih memperkenalkan diri berulang kali di depan cermin. Namun semua persiapan itu bisa runtuh hanya karena satu hal kecil, yakni bahasa tubuh yang keliru.

Bahu membungkuk, tatapan mata menghindar, atau jabat tangan yang terlalu lemah dapat menciptakan kesan negatif bahkan sebelum kamu sempat berbicara. Perekrut kini tak hanya mendengarkan jawaban kandidat, tapi juga membaca gerak tubuh, ekspresi wajah, hingga cara duduk dan berjabat tangan.

Tanpa disadari, komunikasi nonverbal sering kali menjadi faktor penentu diterima atau tidaknya seseorang dalam sebuah pekerjaan. Mengutip CNBC, bahasa tubuh memiliki peran yang sama pentingnya dengan isi CV saat wawancara kerja.

Ketika kita bertemu seseorang untuk pertama kali, sering kali kita tidak menyadari bahwa otak kita sedang bekerja keras. Ternyata otak memperhatikan wajah, postur tubuh, serta seberapa terbuka atau tertutup sikap orang tersebut.

Isyarat nonverbal tersebut secara bawah sadar membentuk persepsi pewawancara terhadap kandidat. Untuk itu, memahami dan mengelola bahasa tubuh menjadi keterampilan penting yang tak boleh diabaikan.

Mari perhatikan ragam bahasa tubuh yang perlu diperhatikan saat wawancara kerja agar tampil lebih meyakinkan dan profesional.

8 Bahasa Tubuh Saat Wawancara Kerja

Berikut bahasa tubuh yang perlu kamu perhatikan saat melakukan wawancara kerja dikutip dari berbagai sumber.

1. Prinsip pause-and-posture Sebelum Masuk Ruangan

Postur tubuh merupakan alat komunikasi yang sangat kuat. Kamu disarankan untuk duduk dengan postur tubuh terbuka, bahu ditarik ke belakang, dan tangan tidak disatukan terlalu rapat. Postur tubuh yang terbuka menunjukkan bahwa kamu terlibat dan tertarik pada percakapan.

Sebelum memasuki ruang wawancara, jangan terburu-buru. Berhenti sejenak, tarik napas dalam-dalam, luruskan punggung, dan tarik bahu ke belakang. Dalam psikologi, posisi ini dikenal sebagai power pose yang membantu menumbuhkan rasa percaya diri dan ketenangan.

2. Jabat Tangan

Jabat tangan sering kali menjadi kontak pertama antara kandidat dan pewawancara. Ada tiga jenis jabat tangan yang umum ditemui.

Pertama, jabat tangan seimbang, yaitu ketika kedua telapak tangan sejajar dan tekanan genggaman sama. Ini merupakan jabat tangan terbaik karena menunjukkan rasa saling menghargai. Jabat tangan yang seimbang mengomunikasikan bahwa kamu memandang lawan bicara sebagai pihak yang setara.

Kedua, jabat tangan dari bawah yang memberi kesan menyerahkan kendali. Ketiga, jabat tangan dari atas yang bisa diartikan sebagai upaya mendominasi.

Di era pascapandemi, jabat tangan kembali dilakukan, namun dengan pendekatan yang lebih bijak. Gunakan genggaman yang tegas selama sekitar satu detik, lakukan kontak mata, dan hindari genggaman terlalu kuat maupun lemah.

3. Aturan Senyum 7 Detik

Senyum sederhana dapat memberikan dampak besar. Namun senyum yang dipaksakan justru mudah terbaca. Orang sebenarnya bisa membedakan senyum yang tulus dan yang dibuat-buat. Senyum yang tulus biasanya menimbulkan kerutan halus di sekitar mata.

Dalam psikologi, senyum ini dikenal sebagai duchenne smile. Kesan pertama sering terbentuk dalam tujuh detik pertama sehingga senyum yang hangat dan alami dapat langsung menciptakan citra positif, ramah, dan percaya diri.

4. Gerakkan Tangan Terbuka, Jangan Dikurung

Menyembunyikan tangan di bawah meja atau menggenggamnya terlalu erat bisa memberi sinyal rasa gugup atau tidak percaya diri. Sebaliknya, gerakan tangan yang terbuka dan selaras dengan ucapan menunjukkan kejujuran serta keterlibatan.

Gunakan gestur seperlunya. Sesekali meletakkan telapak tangan di atas meja dengan posisi rileks juga dapat memancarkan kesan tenang dan berwibawa.

5. Anggukan Alis Sebagai Tanda Ketertarikan

Tak banyak yang menyadari bahwa alis juga berperan dalam komunikasi nonverbal. Anggukan alis yang singkat dan alami saat pewawancara berbicara menandakan ketertarikan dan perhatian.

Isyarat ini menunjukkan bahwa Anda hadir secara mental dan emosional dalam percakapan. Namun lakukan secara wajar agar tidak terkesan berlebihan.

6. Teknik ‘anchor foot‘ untuk Mengatasi Gugup

Kebiasaan mengetuk kaki atau menggerakkan kaki tanpa sadar sering muncul saat gugup. Untuk mengatasinya, cobalah teknik anchor foot dengan menempelkan satu kaki kuat-kuat ke lantai. Stabilitas pada bagian bawah tubuh akan membantu menjaga ketenangan tubuh bagian atas sehingga postur dan gestur tangan terlihat lebih terkontrol.

7. Kendalikan Kedipan Mata

Kedipan mata yang terlalu cepat dapat diartikan sebagai tanda kecemasan. Cobalah untuk mengedipkan mata secara perlahan dan alami saat mendengarkan pertanyaan.

Kedipan yang terkontrol memberi kesan tenang, percaya diri, dan penuh pertimbangan, seolah kamu benar-benar mencerna setiap kata yang disampaikan pewawancara.

8. Bersikap Autentik

Di atas segalanya, keaslian menjadi kunci utama. Kamu tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain saat wawancara.

Jika kamu berpura-pura, pewawancara akan tahu. Secara sadar atau tidak, pewawancara akan merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

Kamu disarankan datang dengan pikiran positif dan menganggap wawancara sebagai kesempatan bertemu calon rekan kerja, bukan situasi yang menakutkan.