Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here

Cerpen: Elegi Esok Pagi (6-Tamat)

Oleh: Agus Sutawijaya.

(CIO) — Usahaku untuk mencari siapa sosok dibalik foto itu tampaknya menuaikan hasil. Cukup banyak pesan yang masuk ke kotak pesanku. Namun sebagian hanya merasa atau mengira-ngira, tak ada yang berani mengakui atau merasa yakin dirinyalah sosok yang ada di foto tersebut. Namun semangatku menjadi semakin terpacu. Aku yakin sudah berada dalam jalur yang benar dalam pencarianku kali ini.

Sebuah pesan kembali masuk malam ini saat aku sedang makan di salah satu warteg di seputaran tempat kost ku. Ia begitu yakin dirinyalah wanita dalam foto itu, dan lelaki di sampingnya adalah abangnya yang 30 tahun lebih tak pernah bertemu dan ia tahu nama abangnya Bang Eman. Air mata mengalir deras di sudut mataku, seiring rasa syukur dan harapanku untuk menemukan keluarga sahabat malangku.

Ia mengaku bernama Yuni Dwi Saputri saat ini sedang berada di Batam. Sehari-hari ia bekerja sebagai pramugari pada maskapai penerbangan berbiaya murah di Indonesia. Saat ini ia sedang grounded di Hang Nadim Batam dan akan melakukan penerbangan esok pagi dengan jadwal Batam-Surabaya, Surabaya-Pontianak, dan terakhir Pontianak-Jakarta. Setiba di Jakarta ia berjanji akan segera menemuiku.

Dari ujung sambungan telepon aku mendengar isak tangisnya begitu kuceritakan keadaan Herman saat ini. Sedikit aku ceritakan juga bagaimana kisah yang kubaca di buku agendanya. Kisah yang akhirnya mempertemukanku dengan salah satu petunjuk terbaik tentang keluarga Herman.

“Terimakasih bang sudah bersusah payah merawat Bang Eman, saya merindukannya bertahun lamanya dan selalu berdoa agar suatu saat dapat dipertemukan kembali,” ucapnya dari seberang sana.

“Man… Herman…. bangunlah, itu Uci datang,” bisikku di telinga sahabatku.

Ajaib, demi mendengar nama Uci kusebut, sedikit ada tanda kehidupan di wajah Herman. Matanya berdenyut, ada linangan kristal bening bergelayut di sudut matanya, yang perlahan meleleh membasahi bagian bawah dahinya.

“Uucii….. benarkah…….,” lirih terdengar.

“Bang ini Uci adek abang….,” tangisnya pecah, keduanya berpelukan saling melepas kerinduan. Tangis semakin menjadi ketika layar monitor tiba-tiba menampilkan garis lurus seiring dengan nada panjang bersahutan dari alarm menyayat hati. Dokter jaga berlarian, segera memeriksa kondisi sahabatku.

Innalillaahi wa innailaihi rajiun, akhirnya dokter menyatakan bahwa sahabatku Herman Felani telah meninggal dunia. Aku dan Uci tak kuasa menahan kesedihan yang begitu dalam. Kupandangi raut wajah orang yang selama dua tahun belakang menjadi sahabat dekatku itu. Tak ada lagi nampak sisa penderitaan di garis wajahnya. Bibirnya tersenyum menyongsong kematiannya. Allah telah mengabulkan permohonan dua orang yang mencinta karena Allah, meski hanya beberapa detik saja. Kembalilah kepada pemilikmu sahabat. Tugasmu di dunia ini telah usai, tinggallah kini kami dengan segala urusan dunia kami.

Kutukan berakhir.

Sejak hari Uci menjenguk Herman di RS Siloam, ternyata ia telah mengajukan cuti. Setelah mengurus seluruh administrasi dan pemulasaraan jenazah, aku membawa Jenazah Herman ke Masjid Kebon Jeruk. Masjid yang menjadi markas pergerakan dakwah ke seluruh dunia. Di Masjid ini aku dan Herman selalu menghabiskan akhir pekan demgan beriktikaf. Di rumah sakit tadi aku sempat mengabari Ustadz Hamzah, salah satu pengurus masjid tentang kematian Herman, beliau jualah yang memintaku untuk menyelenggarakan jenazah Herman di sini.

Herman dimakamkan di pemakaman tak jauh dari lokasi masjid, setelah dishalati oleh ribuan jamaah yang hari itu sedang berkumpul di sana. Air mataku tak berhenti mengalir, membayangkan bagaimana kasih sayang Allah pada sahabatku ini. Ia yang semasa hidup selalu terbuang dan nyaris tanpa keluarga. Ia yang hanya menyimpan tiga nomor kontak saja di telepon pintarnya. Ia yang memiliki satu orang pun teman media sosial, di akhir hayatnya dishalatkan oleh ribuan orang. Sungguh Allah sayang padamu sahabat.

Subuh itu tiga hari setelah kepergian Herman saat merapikan kamar Herman, Uci menelpon berpamitan padaku untuk terbang pagi ini dari Jakarta-Pontianak pada penerbangan pukul 09.00 wib. Ia mengucapkan terimakasih banyak kepadaku.

“Makasih banyak bang, atas segala kebaikan abang. Doakan agar Uci segera bertemu bang Herman lagi. Assalamualaikum..,” ucapnya menutup perbincangan kami di telepon.

Belum selesai kunikmati sepiring ketoprak yang kubeli di gerobak Pak De depan kost ku sambil menonton siaran berita pagi, tiba-tiba saja aku dikejutkan dengan berita Breaking News yang mengabarkan telah terjadi kecelakaan pesawat Sriwijaya Air, SJ 182 tujuan Jakarta-Pontianak, tak lama setelah lepas landas. Aku yakin betul Uci tadi menyebutkan pesawat yang sama tempat ia bertugas pagi itu. Ku coba alihkan siaran ke saluran lain, semua saluran televisi menayangkan berita yang sama.

Tanganku bergetar. Gelas air putih yang sedari tadi ku pegang terlepas, terhempas ke lantai. Kucoba menghubungi nomor Uci namun tak tersambung. Terbayang ucapannya subuh tadi, ingin segera bertemu Bang Herman. Ya Allah… benarkah kutukan sahabatku itu. Benarkah semua orang yang mencintainya akan mati. Aku pusing. Dunia seakan berputar di sekelilingku. Aku mencium aroma gas… dan tiba-tiba saja aku terlempar keras ke arah dinding. Sebuah ledakan hebat telah meluluh lantakkan bangunan rumah Kost ku. Dan aku tak tahu apa-apa lagi, sampai aku terbangun di sebuah ruangan yang dulu pernah ku kunjungi. Ruangan yang sama tempat Herman dirawat dan pergi menghadap ilahi. Ya Rab… telah tibakah waktu ku? Dan semua menjadi gelap kembali.

“Walikulli ummatin ajalun fa-idzaa jaa-a ajaluhum laa yasta’khiruuna saa’atan walaa yastaqdimuuna”

Artinya, “Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun. (Qs. Al A’raf : 34)

(Tamat)

Ditulis di RS Awal Bros Panam sebagai sebuah pengingat buat diri sendiri bahwa yang paling dekat dengan diri ini adalah kematian.
….
Udah ya gaes, lain waktu kita tulis lagi, jangan lupa mampir ke Fanspage saya, Agus Sutawijaya, di sana juga lagi tayang cerita berlatar Ocu, “Toke Nan Malang”, ditunggu krisannya Yenty Amel Natasha Anindita Noni MaRos Azizah Nur Siak Mulyani Rudy Muin Juli Yanti Dmynt Mia Cendrahati Islami Dodi Osman M Syari Faidar RasjidBasjir Trialfejrizal Hamzah Mawardi Tombang
.
#kwa
#nulisaja

Penulis: Agus SutawijayaEditor: M Syari Faidar