Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here

Cerbung: Pakaian Serba Hitam (Bagian 6)

Oleh: Alfi Bi-ka

Bab 6

Pakaian Serba Hitam.

Langit hitam menggelegar. Angin berhembus kencang. Cahaya yang tadi terang benderang bak purnama ke-20 hilang disesaki awan hitam. Kilat-kilat mulai menyambar langit biru yang tak dapat tertawa.

Rintik hujan mulai berdatangan dari segala penjuru. Rintikan itu menerabas rumah penduduk yang beratap seng. Menerabas pohon karet yang berbaris seperti tentara mau perang. Menerabas pohon sawit yang mengakar kuat di tanah merah berminyak.

Terabasan hujan tak terkendali. Pohon yang tak kuat akarnya tumbang tak berdaya. Sawit yang katanya sulit dicabut oleh bulldozer pasrah seperti dijewer oleh angin sehingga ia tercabut dari tanah. Untung saja angin sebesar kontainer itu tidak menghempaskan mobil kecil yang sedang kami kendarai.

Sejenak mereka menepi di dekat area penduduk dermaga. Sudah dipastikan bahwa mereka akan sampai beberapa jam lagi. Tapi sayang gemuruh hujan lebat menghentikan perjalanan mereka.

Mereka tidak menyadari ketika mobil sedang menepi pelan. Dari arah yang tak diduga seorang pria berpakaian serba hitam melemparkan beberapa butir telur ke arah kaca mobil. Membuat kaca mobil kabur seperti televisi konslet.

Sebuah ledakan terdengar di depan mobil mereka. Asap mengepul hebat di sekitar mobil. Diansyah mencoba membuka pintu kaca beberapa centimeter agar ia dapat melihat. Tapi apa yang terjadi seorang dengan sigap menodongkan senjata laras panjang.

“Jika macam-macam, kutembak kau,” ungkapnya dengan suara kasar.

Diansyah sebenarnya ingin mengeluarkan sesuatu tapi terlambat. Otaknya berputar gelat.

“Ya Allah yang Maha Hebat dan Kuat lindungi hamba-Mu ini.” Berkali-kali harapan itu terucap.

“Oi. Kau yang di dalam, jangan macam-macam. Jika bergerak kau yang akan kujadikan sasaran duluan.” Ancamnya kepada mereka berdua. Kurdi terpaku dan pasrah dengan apa yang terjadi.

“Serahkan uang kalian!” mintanya dengan kasar.

Diansyah mengeluarkan beberapa uang yang ada di dompet.

“Ambil saja semua kalau kau mau. Tapi lepaskan kami melanjutkan perjalanan.” Diansyah memberi penawaran.

“Apa katamu?” Belum sempat ia melanjutkan pembicaraan, tangan kiri pria bertopeng mengeluarkan kain hitam.
Kain itu meleset cepat di mulut Diansyah sehingga membuat matanya terpejam lalu pingsan.

Ketika mengisap kain tersebut.
Diansyah, “dibius.” Pekik Kurdi dalam hati. Ia mulai panik.

“Hai, mau kau apakan temanku ini?” Kurdi bertanya dengan nada takut.

Dengan cepat sang Pria Bertopeng menjawab, “Kau diam di situ. Jika kau banyak bertanya kutenggelamkan kau di dermaga Tanjung Si Api-api.” Kurdi terdiam dalam ketakutan.

“Aku ngeri jika mereka melukai Diansyah. Sebenarnya apa salah kami? Kami hanya ingin mencari sahabat kami itu saja. Kami tidak menganggu siapa-pun.” Kurdi berujar dalam pikirannya.

Sementara Diansyah tergeletak seperti orang tidur di kursi mobil. Pintu sebelah kiri yang ditempati Kurdi dibuka oleh teman pria bertopeng tadi. Ternyata mereka bergerombol sekitar tujuh orang lebih di sekitar mobil.

Berarti sejak tadi sore ketika mereka bercakap-cakap di rumah Kurdi, mereka sudah diintai oleh seseorang. Puncak intaian tersebut adalah mereka dicegat di tengah situasi hujan deras oleh mereka yang bertopeng.

“Apakah karena Diansyah seorang Polisi sehingga ia banyak dimusuhi? Tapi setahuku dia adalah Kepala Polisi jujur, ramah dan tidak terlibat sindikat apa pun, baik saat bertugas atau diluar tugas.” Kurdi coba menerka-nerka sendiri.

Mungkin saja ada orang yang iri dengan karirnya yang cemerlang di Kepolisian, sehingga ia menjadi incaran. Jika itu benar terjadi alangkah piciknya orang itu. Ingin mendapatkan jabatan dengan cara-cara kotor. Padahal jabatan memiliki tanggung jawab besar yang harus dipikul.

Kurdi diseret keluar dengan todongan senjata dibelakangnya. Kepalanya dengan cepat ditutup oleh kawanan pria bertopeng tadi. Ia dimasukan ke dalam mobil lain yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat tersebut. Ternyata di hutan tersebut ada jalan pintas menuju pelabuhan.

Sementara Diansyah terbujur begitu saja di dalam mobil. Hanya Kurdi yang dibawa pergi oleh pria bertopeng. Mobil yang ditumpangi pria bertopeng dijalankan oleh Sang Supir. Mobil seperti kesulitan untuk melaju di tanah merah yang lekat seperti tepung sagu terkena air. Mobil didorong oleh anak buah mereka yang ternyata berjumlah banyak.

“Oui, dorong mobilnya. Jika terlambat Bos akan marah.” Perintah salah seorang yang sedang duduk menghadap di depan Kurdi.

Jika diperhatikan yang bicara tadi adalah sebagai pemimpin yang merencanakan penculikan. Suaranya agak nyaring tapi terdengar tegas.

Mobil akhirnya dapat berjalan di tengah derasnya hujan. Mobil terseok-seok karena sulitnya melintasi jalan tanah merah.

Pikiran Kurdi tertuju pada Diansyah yang masih tergeletak di mobil. Ia berharap semoga saja ada warga yang melihatnya kemudian ia tertolong.

“Belok kanan menuju arah jalan beraspal.” Perintah pria bertopeng.

Mobil mengarah ke kanan. Jalan mulus yang mereka lintasi membuat kecepatan mobil bertambah.

“Belok kiri masuk gang sebelah ruko.” Perintahnya lagi.

Hujan mulai reda ketika memasuki area yang tak jelas. Banyak suara mesin di sekitar tempat tersebut. Bau yang begitu menyengat seperti bau tiner dan cat berminyak berkeluyuran hinggap di batang hidung Kurdi.

Ia dikeluarkan dari mobil, ditarik dengan cepat menuju ruang kosong. Terdengar pantulan suara ketika orang berbicara sedikit keras.

“Tinggalkan dia di situ. Itu perintah Bos,” ujar pria bertopeng yang bertindak sebagai komandan.

* *

Sementara di tempat lain, Diansyah yang tergeletak di dalam mobil terbangun oleh suara warga yang berteriak histeris minta tolong. Wanita yang hendak pergi ke ladang karet melihat Diansyah tergeletak tak berdaya. Dia keluar dari mobil dengan tubuh lunglai seperti orang mabuk. Wajahnya sedikit sembab, beberapa kali ia terjatuh untuk bangkit dan berdiri.

“Tuan, Anda tidak apa-apa? Apa yang terjadi? Mengapa mobil Tuan berada di area ini?” Tanya si perempuan yang kasihan melihatnya.

Selang beberapa menit belasan warga dengan senjata klasik seperti parang panjang, parang pendek, parang belati, pisau tebas, pisau bergigi hiu, pisau dapur. Tak luput untuk dibawa bahkan celurit bengkok, celurit bulan sabit, celurit berkarat, celurit bermata dua. Mereka seperti bersiap akan perang karena melihat salah seorang terkena korban penculikan.

“Bapak istrahat dulu di sini?” seorang warga menawarkan agar Diansyah rehat dulu.

“Jangan bicara dulu.” larang seorang warga dan membawanya ke sebuah rumah.

Terdengar dari kejauhan walaupun samar-samar di telinga Diansyah, “buatkan jahe untuk diminum. Jangan sampai di mati”

Dengan gerak cepat seorang membawakan beberapa minuman.“Minum ini Pak,” suruhnya. Diansyah segera meminumnya. Mulai terasa di seluruh badannya walaupun ia belum seratus persen. Tapi ia dapat bernafas lega.

Seorang warga yang curiga. Karena maraknya pencurian mobil. Dia mengira bahwa jangan-jangan orang ini hanya pura-pura saja padahal ia sedang mencuri mobil, “Bapak ini siapa? dan mau kemana? mengapa mobil Bapak berhenti di tengah hutan seperti ini?”

Diansyah hanya menunjukan kartu indentitas kepolisian yang dibawa. Warga mulai percaya bahwa ia orang yang dapat dipercaya.

Seorang warga lagi berbisik, ”cek jangan sampai ia menipu kita,” ucap seorang warga.

“Ini asli kok,” jawab salah satu temannya.

Walaupun dengan kondisi yang lemah. Diansyah coba menjelaskan bahwa temannya dibawa oleh gerombolan yang menggunakan topeng.

Setelah mendengar keterangan dari Diansyah mengenai kronologis dirinya, warga benar-benar menaruh simpati dan prihatin. Bahkan mereka siap membantunya untuk mencari sahabatnya yang diculik. Tapi dengan halus ia menolaknya.

(***)