Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here

Catatan Perjalanan: Menikmati Pesona Air Terjun Gagak

Catatan Perjalanan-Menikmati Pesona Air Terjun Gagak

(CIO) — Bersama orang-orang tersayang, aku menikmati vakansi atau liburan ke Alam Bebas. Ada 2 spot yang kami kunjungi: Spot Sungai Gagak di Desa Koto Mesjid Kabupaten Kampar dan Spot Pemandian Angkaran di Desa Kabun Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau.

Vakansi kali ini terasa beda, selain menikmati pesona alam yang terpampang indah di depan mata, kami juga merasakan sensasi yang luar biasa. Apa itu? sensasi manakala lidah mencicipi nikmatnya makan siang dengan menu spesial ikan asin bakar tepat di bebatuan pinggir Sungai Angkaran. Yang tentu saja ditemani oleh orkestra alam dengan simponi gemericik air membelai mesra bebatuan.

Berikut kisah perjalananku;

Aku berangkat dari Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan pada waktu sekitaran pukul 15.30 Wib sore di hari Jum’at dengan menggunakan transportasi sepeda motor roda dua. Aku ditemani oleh 2 anak perempuan Faridah As dan Fauziah As serta keponakan laki-laki yang bernama Febby, menuju ke Kota Bangkinang, Kabupaten Kampar.

Sesampai di Bangkinang tepat pada pukul 20.00 Wib malam. Kami memang agak lama di perjalanan karena sempat istirahat guna menunaikan shalat ashar di Mesjid Langgam Kabupaten Pelalawan. Setelah itu meneruskan perjalanan melintasi Kota Pekanbaru.

Kami bermalam di Jalan Kartini Kota Bangkinang — rumah yang penuh dengan kenangan, tempat aku dibesarkan.

Esoknya, Sabtu (23/01/2021) aku ke pasar dulu guna membeli logistik untuk bekal perjalanan menuju lokasi spot air terjun Sungai Gagak, Desa Koto Mesjid Kabupaten Kampar.

Tepat pada pukul 11.00 Wib kami berangkat menuju Desa Kuok, kemudian terus melanjutkan perjalanan ke Simpang Silam lalu masuk dipersimpangan menuju ke Pulau Godang. Sesampainya di Simpang Desa Koto Mesjid, kami langsung belok kiri meneruskan ke Sungai Gagak.

Berbekal informasi yang minim serta kurangnya rambu petunjuk jalan menuju Sungai Gagak, awalnya aku sempat ragu untuk masuk ke lokasi, takut nyasar. Tapi karena desakan keinginan untuk melihat air terjun itu begitu kuat, timbul tekad dan seandainya nyasar ya balik lagi menyusuri jalan awal. Ini jangan di tiru ya gaesss..

Ternyata betul, dengan berbekal tekad dan keberanian, sampailah kami pada pukul 13.00 WIB di jalan masuk menuju Air Terjun Sungai Gagak. Setelah memarkirkan tunggangan — sepeda motor — belum meneruskan perjalanan berjalan kaki dengan kondisi jalan yang mulai agak ekstrim semua logistik dibagi rata, agar meringankan beban bawaan selama perjalanan. Dari area parkir sepeda motor desiran air terjun sudah menyambut dengan asri.

Malam sebelum kedatangan kami, hujan turun mengguyur bumi sehingga air Sungai Gagak tidak jernih alias agak keruh. Setelah melepas lelah dan beristirahat sejenak, lalu kami langsung mendirikan tenda dome, meskipun disekitar kami sudah ada gazebo untuk beristirahat.

Air yang mengalir dari pancuran kami minum, terasa segar ditenggorokan. Tanpa terasa waktu shalat dzuhur sudah masuk, aku berwudhu’ dan mengerjakan kewajiban shalat. Selepas shalat dzuhur aku langsung memasak logistik untuk mengisi “kampung tengah”.

Anak-anak terlihat asyik mandi di air terjun dengan sepuasnya. Aku memanggil mereka untuk menikmati makan siang yang tentu saja terasa berbeda dari biasanya, karena ditemani oleh gemericik air menyentuh bebatuan. Irama simponi alamnya terasa merdu di cuping telinga.

Setelah selesai makan selepas shalat Ashar kami packing barang dan mengemas peralatan untuk segera pulang. Sebetulnya kami mau bermalam saja di sekitar lokasi air terjun tetapi karena tak ada pengunjung lain yang bermalam jadi kami memutuskan saja untuk pulang.

Setelah membayar bea masuk ke pengelola sebesar sepuluh ribu perorang kami langkahkan kaki setapak demi setapak meninggalkan Air Terjun Gagak. Anak-anak terlihat senang dengan panorama alam dan suasananya, mereka mengatakan, “Besok kita ke sini lagi ya, kalau bisa kita ‘nginap’ saja dan jam 5 sudah sampai lagi di perkampungan”.

(***)

Dikisahkan oleh: Sjamwidar binti Rasjid, yang saat ini berdomisili di Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau.

Penulis: Sjamwidar binti RasjidEditor: M Syari Faidar