Berkaca dari Thailand dan Malaysia, Eks Peneliti Vrije Universiteit Dr. Daniel Susilo Peringatkan Warga RI Siapkan ‘Emergency Pack’

Emergency Pack
Foto: ChatGPT

KUALA LUMPUR – Peringatan kewaspadaan tingkat tinggi yang diumumkan secara resmi oleh Perdana Menteri Thailand dan Malaysia terkait kesiapan Emergency Pack (paket darurat) nasional memantik perhatian kalangan akademisi internasional. Ancaman krisis yang kini bergeser dari ranah fisik ke ranah digital menuntut kesiapan masyarakat yang lebih komprehensif, tidak terkecuali di Indonesia.

Pakar komunikasi strategis internasional, Dr. Daniel Susilo, menilai langkah dua negara ASEAN tersebut merupakan sinyal mitigasi yang harus dibaca secara jeli oleh publik Tanah Air. Dengan rekam jejak akademis global, termasuk pengalamannya sebagai Postdoctoral Fellow di Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda, Dr. Daniel melihat bahwa ancaman kelumpuhan infrastruktur akibat serangan siber kini menjadi fokus utama keamanan negara-negara modern.

“Jika kita melihat polanya, Malaysia saat ini sudah bersiap dan menjalankan Crisis Communication (komunikasi krisis) yang sangat terstruktur kepada publiknya. Mereka memiliki sense waspada yang sangat tinggi terhadap potensi cyber attack yang bisa berdampak pada kelumpuhan sistem vital negara,” ujar Dr. Daniel Susilo yang kini menjabat sebagai Senior Lecturer di School of Media and Communication, Taylor’s University Malaysia.

Berdasarkan kacamatanya sebagai peneliti yang lama mengkaji silang budaya dan media massa di Asia hingga Eropa, Dr. Daniel menekankan bahwa warganet Indonesia tidak boleh terjebak dalam false sense of security (rasa aman yang semu) hanya karena selalu terhubung dengan internet. Ketika infrastruktur digital diserang, kepanikan massal adalah ancaman pertama.

Oleh karena itu, tokoh akademisi ini secara tegas mendesak masyarakat Indonesia untuk mulai meniru langkah rasional warga di negara tetangga dengan menyiapkan mitigasi skala rumah tangga, tanpa perlu memicu kepanikan berlebih (panic buying).

“Warganet Indonesia perlu juga bersiap dari sekarang. Paling tidak, mulailah menyetok Emergency Pack di rumah masing-masing. Siapkan makanan siap saji, persediaan air minum yang cukup, senter, powerbank yang selalu terisi penuh, serta obat-obatan pribadi,” tegasnya.

Lebih jauh, Dr. Daniel memberikan satu catatan penting yang kerap dilupakan oleh masyarakat era siber: pentingnya memiliki alat komunikasi analog.

“Satu hal yang sangat krusial adalah radio transistor berbasis baterai. Dalam skenario terburuk terjadinya cyber attack yang memutus jaringan internet dan listrik secara total, radio dengan baterai analog akan menjadi satu-satunya instrumen penyambung informasi dari pemerintah kepada warga. Ini standar mitigasi krisis global yang harus mulai diedukasikan ke masyarakat kita,” tambah Dr. Daniel.

Ketokohan Dr. Daniel Susilo dengan analisis lintas negaranya ini memberikan perspektif baru. Pesan utamanya jelas: di era di mana perang tidak lagi menggunakan senjata api melainkan retasan server, kesiapan fisik dan logistik analog adalah benteng pertahanan terakhir bagi setiap keluarga. Masyarakat Indonesia diimbau untuk melek krisis dan mulai menyicil Emergency Pack di kediaman masing-masing.