Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here

Bangkitnya Sektor Pertanian Indonesia untuk Masa Depan Bangsa

Oleh: Al Firdaus, Tenaga Pendidik.

CIO — Sebagai negara yang terbuka masyarakat di Indonesia harus segera menyesuaikan diri dalam rangka meningkatkan peran aktif sebuah negara yang berorientasi pada kemajuan, produktivitas dan kemakmuran bersama.

Tentunya kita tidak melihat segala sesuatu dengan kaca pesimis dan tidak pula over optimistik, karena kedua hal tersebut memiliki dampak yang penting terhadap perkembangan psikologi masyarakat dalam sebuah negara.

Artinya bahwa jika terlalu percaya diri dengan penguasaan pengetahuan yang minim, tentu saja akan membuat kita malu sendiri dikatakan sebagai masyarakat yang tidak mampu memberi solusi.

Tapi jika pesimis pun akan menjadi sulit melangkah ke masa depan. Kita seperti terbelenggu oleh penjajahan dalam diri, bahwa kita masyarakat bawahan yang tidak bisa maju dibandingkan dengan bangsa lain. Padahal jelas bangsa Indonesia sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu yang berawal dari kerajaan yang sempat berjaya seperti Kerajaan Majapahit, Sriwijaya dan Mataram.

Itu sudah sangat cukup untuk membuat bangsa ini kembali pada poros sejarah yang maju. Negara Indonesia saat ini sangat lengkap dengan segala sumber daya alam yang sangat melimpah. Termasuk pertanian. Pertanian ini memiliki nilai sangat penting bagi Indonesia. Karena negara Indonesia sebagian besar merupakan wilayah agraris yang memang cocok dengan berbagai macam tanaman yang menghasilkan dan berdayaguna.

Dari data di Kementrian Pertanian, Indonesia memiliki pasar pertanian di berbagai sektor yang bernilai jutaan dollar setiap eskpornya. Dan sektor pertanian pun di Indonesia memiliki peranan sangat penting dalam memajukan negara.

Mengingatkan Indonesia adalah negara agraris. Hal ini memang sangat cocok untuk ditanami berbagai macam produk pertanian yang ada. Maka tidak heran kita memiliki ladang sawit yang luas, lahan padi ada di pesisir Jawa, tembakau, karet, cengkeh, lada dan tanaman lainnya. Tumbuhan ini dapat tumbuh sangat subur di Indonesia. Hal ini menjadi kelebihan dari negara Indonesia.

Pada artikel pertanian yang ditulis oleh Enok Sumarsih et,al. Dari sektor beras saja Indonesia merupakan bahan utama dalam ketahanan pangan karena merupakan makanan pokok sebagian masyarakat dunia, khususnya di Indonesia.

Dengan jumlah penduduk 268,074 juta jiwa dengan pertumbuhan 1,31% pertahun lebih dari 95% mereka mengkonsumsi beras. (Enok Sumarsih at. al, Efisiensi Pengunaan Sumber Daya dan Pendapatan Usaha tani Minapadi dengan Sistem Tanam Jajar Legowo, Vol 4 no 1 Mei 2020: 35-41, diterbitkan 14 Mei 2020).

Kemudian ketika dilihat dari sektor perkebunan sawit pada tahun pertama 2019 mampu mengeskpor 68 kali dengan total volume 638 ton senilai Rp 427,9 miliar dengan tujuan 14 negara. Sedangkan sektor karet olahan sebanyak 31 kali total 5.725 ton senilai 157,4 miliar.

Dari data yang dikutip di website Kementrian Pertanian terlihat bahwa selama kurun waktu 5 tahun dari tahun 2014 hingga tahun 2018 perkembangan luas areal Perkebunan Rakyat (PR) dan Perkebunan Besar Swasta (PBS) cenderung meningkat dengan laju pertumbuhan rata-rata masing-masing sebesar 7,35% dan 9,83%. Luas areal PBS meningkat dari 5,6 juta hektar pada tahun 2014 menjadi 7,9 juta hektar pada tahun 2018, sementara luas areal PR Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Kelapa Sawit Tahun 2018-2020 meningkat sebesar 1,4 juta hektar dari tahun 2014 menjadi 5,8 juta hektar pada tahun 2018.

Sedangkan perkembangan luas areal Perkebunan Besar Negara (PBN) kurang mengalami perkembangan yang berarti dalam 5 tahun terakhir. Hal ini disebabkan karena PBN yang pada umumnya didominasi oleh PT. Perkebunan Nusantara mempunyai kendala dalam pembiayaan untuk melakukan ekspansi, disamping itu kendala administrasi seperti dalam menentukan harga pembelian lahan perkebunan yang sudah ada. Dengan kata lain, pengembangan PR dan PBS sangat berpengaruh terhadap pengembangan total Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia.

Pada tahun 2019 dan tahun 2020 luas areal PR dan PBS kelapa sawit diperkirakan kembali meningkat dari tahun 2018 dengan laju pertumbuhan sekitar 2,3%. Luas areal perkebunan kelapa sawit diperkirakan akan terus meningkat dikarenakan semakin pesatnya perkembangan industri minyak kelapa sawit saat ini dan kebutuhan minyak nabati dunia yang cukup besar dan semakin bertambah.(diterbitkan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Kelapa Sawit Tahun 2018-2020, halaman 10-11).

Karet

Pada sektor karet masih bersifat fluktuaktif. Pada tahun 2017, produktivitas Karet Indonesia mencapai angka tertinggi yaitu sebesar 1.205 kg/ha karet kering sebanding dengan perkembangannya mengalami kenaikan tertinggi 10,61% dari tahun 2017. Tingginya produiktivitas rata-rata terutama disumbang oleh PBN dan PBS, dimana hal tersebut dipengaruhi faktor budidaya serta pascapanen yang sudah menggunakan teknologi serta sesuai standar.

Tetapi pada tahun 2018 selanjutnya, secara rata-rata nasional produktivitas karet tidak mengalami perubahan. Sedangkan perkiraan tahun 2019 dan tahun 2020 mengalami penurunan produktivitas karena adanya serangan OPT daun gugur daun karet/Pestalotiopsis sp. (diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Karet Tahun 2018-2020, halaman 12).

Kapas

Untuk kapas pada tahun 2018, lima besar negara pengimpor kapas Indonesia adalah Vietnam, Taiwan, Japan, Korea Republic of dan Thailand. Volume ekspor Vietnam mencapai 7,12 ribu ton atau 25,0 persen dari total volume ekspor kapas Indonesia dengan nilai 8,12 juta. Peringkat kedua adalah Taiwan, dengan volume ekspor ke Taiwan mencapai 5,20 ribu ton atau 18,3 persen dari total volume ekspor kapas Indonesia dengan nilai 6,22 juta. Peringkat ketiga adalah Japan, dengan volume ekspor sebesar 1,95 ribu ton atau 6,8 persen dari total volume kapas Indonesia dengan nilai 2,74 Juta. Peringkat keempat adalah Korea Republic of, dengan volume ekspor sebesar 1,889 ribu ton atau 6,6 persen dari total volume ekspor kapas Indonesia dengan nilai 0,63 Juta. Peringkat kelima adalah Thailand dengan volume ekspor 1,76 ribu ton atau sekitar 6,2 persen dari total volume ekspor kapas Indonesia dengan nilai 2,80 juta. (diterbitkan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Kapas Tahun 2018-2020 halaman 11).

Tembakau

Pada tahun 2018, Indonesia mengimpor tembakau sebesar 121.390 ribu ton dengan nilai sebesar 695 juta USD. Indonesia paling banyak melakukan impor tembakau dengan kode HS 2401.20.10 dengan nilai impor sebesar 395,1 juta USD atau memberikan kontribusi sebesar 56,79% dari total impor tembakau Indonesia tahun 2018. Kontribusi masing-masing kode HS terhadap total nilai impor tembakau Indonesia.(diterbitkan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Tembakau Tahun 2018-2020, halaman 17).

Cengkeh

Perkembangan nilai ekspor cengkeh tahun 2014-2017 cenderung mengalami fluktuasi, tetapi pada tahun 2018 mengalami kenaikan yang sangat signifikan mencapai 252%.

Kenaikan nilai ekspor dan juga volume cengkeh diperkirakan mulai membaiknya harga serta meningkatnya kebutuhan dunia serta jumlah produksi yang mengalami peningkatan. Volume dan nilai ekspor Cengkeh di Indonesia Tahun 2018 berdasarkan kode HS. Jumlah volume ton 20.246 dan nilainya USD 101.766. (diterbitkan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Cengkeh Tahun 2018-2020, Halaman 14-15).

Lada

Nilai ekspor lada Indonesia cenderung mengalami penurunan selama tahun 2015-2018 dengan rata-rata penurunan sebesar 34,02% kecuali pada tahun 2015 nilai ekspor lada mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2014 dengan kenaikan sebesar 69,30%. Pada tahun 2018, nilai ekspor lada mencapai 152,47 juta USD dengan surplus sebesar 147,9 juta USD atau turun sebesar 36% dari tahun 2017. Surplus tertinggi terjadi pada tahun 2015 dengan neraca perdagangan sebesar 535 juta USD. Volume dan nilai ekspor lada di Indonesia tahun 2018 berdasarkan kode HS.(diterbitkan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Lada Tahun 2018-2020, halaman 13).

Maka tidak mengherankan jika melihat data dari Kementrian Pertanian bahwa IKM (Indeks Kepuasan Masyarakat) hampir 90,2% tahun 2019. Hal ini menunjukan bahwa pertanian di Indonesia meningkat kepuasannya. Tentunya ini menjadi catatan baik agar kita terus berbenah menuju ekonomi yang mensejahterakan. Kita tidak bisa hanya berpuas diri pada angka tersebut. Kita harus mampu menjawab beberapa tantangan ke depan.

Pertama, elaborasi antara masyarakat pertanian dengan sekolah menengah untuk meningkatkan pemahaman kepada generasi masa depan bahwa produk pertanian dapat menjadi pilihan konsumen modern dalam meningkatkan kemandirian anak bangsa.

Contoh: Kopi buatan anak negeri di SMK Jabar. Elaborasi ini memang tidak bisa sendiri harus ada perantara dapat menyatukan keduanya siapa dia yaitu Kementrian Pertanian.
Karena Kementrian Pertanian sebuah lembaga negara yang mengontrol, bahkan memberikan ijin untuk protokol bagaimana mekanisme pertanian berbagai komoditi di Indonesia. Tanpa adanya Kementrian Pertanian pasti akan sangat kesulitan.

Kedua, pengembangan produk klasik ke produk modern seperti semua orang tahu di masa klasik jagung hanya dimakan saja. Tapi kedepan tidak menutup kemungkinan kita kembangkan menjadi susu yang dapat menjadi pilihan efektif bagi masyarakat modern. Karena tidak perlu lagi menghandalkan susu sapi.

Ketiga perlu adanya sejenis start-up yang mengulas masalah-masalah perkebunan dari berbagai sektor dalam rangka pembelajaran bagi masyarakat. Jadi ketika masyarakat akan belajar ternak budidaya ikan lele mereka memiliki referensi yang bagus untuk dijadikan rujukan. Tidak hanya itu di dalam aplikasi tersebut menyediakan penjual jenis-jenis berbagai komoditi. Kita untuk saat ini hanya mampu mengakses data dari web Kementrian Pertanian saja. Dan yang mengakses seluruh masyarakat di Indonesia, mungkin webnya dalam memberikan informasi terkendala berbagai hal. Dengan adanya aplikasi pertanian di berbagai sektor hal itu diharapkan dapat memudahkan banyak pihak dalam mengakses produk-produk pertanian.

Keempat, permodalan yang mudah bagi masyarakat. Harapannya permodalan ini mampu memberikan bantuan kepada para penggerak yang berada di sektor pertanian.
Diharapkan dengan adanya elaborasi pengembangan pertanian produk klasik ke produk modern dan sebuah start-up sebagai penunjang pembelajaran pertanian disertai permodalan yang mudah dapat menjadikan pertanian Indonesia maju.

Seperti pepatah Gemah Ripah Loh Jinawi, yakni sebuah keadaan menggambarkan kondisi yang sangat subur dan sangat makmur di suatu daerah. Kemudian juga selaras dengan pepatah Tata Tentrem Kerta Raharja, yakni mengambarkan suatu daerah yang tertib, tentram, serta sejahtera dan berkecukupan segalanya. Itu adalah cita-cita luhur yang sudah ditanamkan oleh generasi dahulu berabad-abad lalu kepada kita semua.

Tinggal sekarang kita harus mampu mengimplementasikan buat negara kita yang berasaskan pancasila sesuai dengan sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Jadi kemajuan pertanian harus memenuhi sila kelima agar Indonesia menjadi negara yang kuat, sejahtera dan berdaulat.

(***)

Al Firdaus saat ini berprofesi sebagai Guru SD Tahfiz Jabal Rahmah dan SD Islam Cikal Cendekia Tangerang.

Selain menulis artikel, penulis juga aktif menulis karya sastra non-fiksi, seperti: menulis puisi, cerpen dan novel.