Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here
Opini  

Bagaimana Jadinya Jika Dunia Tanpa Kata?

Oleh: Syahrizul, Tenaga Pendidik

CIO — Kenapa orang gandrung dengan media sosial? Netizen berteriak paling keras dan paling riuh manakala ada wacana pemblokiran media sosial.

Coba bayangkan, jika satu hari saja media sosial tidak bisa diakses. Hambar gaes, bagi sebagian orang bagaikan makan tanpa lauk, nasi doang.

Karena hari ini, media sosial adalah ruang terbuka buat kata-kata, ekspresi buat wajah atau informasi apa saja, seperti sekedar menyampaikan kalau kucingmu baru saja kawin dengan kucing tetangga, dan itu sah, legal dan tidak melanggar hukum apapun.

Sadar atau tidak, kita semua adalah penikmat sekaligus produsen kata yang membutuhkan “pasar” untuk menjualnya dan media sosial adalah lapak paling murah bahkan tanpa sewa. Kata-kata itu ajaib, bisa menggerakkan, menyehatkan atau sebaliknya.

So, berhati-hatilah manakala menuliskan atau mengucapkan kata. Apakah kumpulan kata yang kita guratkan atau lafalkan akan berpotensi menggerakkan ke arah yang lebih baik, menyehatkan opini publik atau sebaliknya jadi rubbish tempat segala macam bakteri hoax, fitnah berkembang dan tumbuh subur.

Kata yang kita sampaikan erat sekali kaitannya dengan apa yang ada di kepala kita. Jika yang keluar selalu sampah maka itulah isinya. Kasihani otak dan pikiran digerogoti najis dan kebusukan. Mungkin saatnya me-restart sekaligus meng-install ulang prosesor agar virus bisa dibersihkan.

Satu tips, selain me-restart agar pikiran sehat, maka asupan pikiran mesti dijaga, jangan biarkan sampah masuk. Jika terlanjur masuk, hancurkan di dalam dengan anti virus mu, jangan biarkan menulari orang lain.

Gaess, kalau bahan bacaanmu koran kriminal, maka isi kepalamu tak jauh-jauh dari perkosaan, jambret, maling atau ramalan mimpi. Tapi sebagian orang malah kecanduan berita begituan. Sungguh absurd.

Tapi, dunia tanpa kata ibarat layar monitor indikator pasien ICU yang tinggal lurus horizontal, khatam.

Happy Saturday.