Oleh: Ade Marpudin.
Ketua STES Bhakti Nugraha/
Ketua Umum Forum Komunikasi Nasional- Ikatan Dosen Ekonomi Syariah Indonesia (IDESy-Indonesia PTKIS)
“Football is a simple game. Twenty-two men chase a ball for 90 minutes and, in the end, the team with the best preparation usually wins.” Kalimat yang sering dikaitkan dengan legenda sepak bola Inggris, Gary Lineker, mengandung makna yang jauh melampaui lapangan hijau. Kemenangan bukan semata-mata soal keberuntungan, tetapi buah dari persiapan, strategi, disiplin, dan eksekusi.
Perhelatan Piala Dunia 2026 sekali lagi memperlihatkan kepada dunia bahwa sepak bola bukan lagi sekadar olahraga. Ia telah berkembang menjadi industri global bernilai miliaran dolar yang melibatkan manajemen modern, analisis data, pemasaran, teknologi, kepemimpinan, hingga pengelolaan sumber daya manusia.
Di balik setiap pertandingan tersimpan pelajaran berharga bagi dunia usaha. Setiap pelatih menyusun strategi. Setiap pemain memahami perannya. Setiap keputusan diambil berdasarkan analisis. Dan setiap kemenangan diraih melalui kerja sama yang solid. Hasilnya Spanyol keluar sebagai juara.
Apakah ada hubungannya strategi-taktik bermain bola dengan strategi bisnis?.
Dalam sudut pandang penulis ada korelasi yang signifikan untuk di cermati. Di tengah persaingan yang semakin ketat dan era digital yang bergerak sangat cepat, pelaku usaha dituntut memiliki kecerdasan yang sama seperti seorang pelatih sepak bola: mampu membaca situasi, mengenali kekuatan tim, memahami kelemahan pesaing, lalu menentukan strategi terbaik untuk memenangkan pasar.
Strategi Menentukan Arah, Taktik Menentukan Hasil
Dalam sepak bola dikenal dua istilah penting: strategi dan taktik. Strategi adalah peta besar menuju kemenangan. Taktik adalah cara menjalankan peta tersebut di lapangan. Banyak usaha kecil gagal bukan karena produknya buruk, melainkan karena berjalan tanpa arah. Mereka menjual apa yang bisa dibuat, bukan membuat apa yang dibutuhkan pasar.
Peter Drucker, Bapak Manajemen Modern, mengatakan, “The best way to predict the future is to create it.” Artinya, pelaku usaha tidak boleh sekadar menunggu perubahan. Mereka harus menjadi pencipta perubahan melalui inovasi, pelayanan, dan strategi pemasaran yang tepat.
Menyerang Pasar dengan Inovasi
Dalam sepak bola modern, tim yang hanya bertahan akan terus berada di bawah tekanan. Sebaliknya, tim yang mampu menguasai permainan akan lebih banyak menciptakan peluang. Begitu pula dalam bisnis, menyerang pasar bukan berarti perang harga. Menyerang berarti menghadirkan solusi yang lebih baik, membangun merek yang kuat, aktif di media digital, memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), memahami perilaku pelanggan, dan terus menghadirkan inovasi.
Jack Ma pernah mengingatkan, “Never compete on prices, compete on services and innovation.” Persaingan harga hanya menghasilkan keuntungan sesaat. Namun inovasi dan pelayanan akan menciptakan loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.
Tim Hebat Selalu Mengalahkan Individu Hebat
Piala Dunia telah membuktikan bahwa tim paling mahal dan bertabur bintang belum tentu menjadi juara. Mengapa?, Karena kemenangan lahir dari kolektivitas tim. Setiap pemain memiliki tugas berbeda, tetapi tujuan mereka sama yaitu meraih kemenangan.
Hal yang sama berlaku dalam dunia usaha. Pemilik usaha tidak mungkin mengerjakan semuanya sendiri. Dibutuhkan sinergi antara produksi, pemasaran, pelayanan pelanggan, administrasi, keuangan, hingga distribusi. Seperti di jelaskan oleh Andrew Carnegie, “Teamwork is the fuel that allows common people to attain uncommon results.” Kerja sama tim mengubah kemampuan biasa menjadi prestasi luar biasa.
Adaptasi adalah Strategi Bertahan yang Sesungguhnya
Pelatih hebat tidak terpaku pada satu formasi. Ketika pertandingan berubah, strategi ikut berubah.
Begitu pula dalam bisnis. Era digital telah mengubah cara masyarakat membeli produk. Dulu pelanggan datang ke toko. Hari ini, toko harus datang kepada pelanggan melalui media sosial, marketplace, website, video pendek, live streaming, dan berbagai platform digital lainnya.
Seperti di jelaskan oleh Charles Darwin, “It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent, but the one most responsive to change.” Dalam bisnis, perusahaan yang mampu beradaptasi jauh lebih berpeluang bertahan dibandingkan perusahaan yang hanya mengandalkan pengalaman masa lalu.
Data Adalah “Bola” Baru dalam Dunia Bisnis
Sepak bola modern sangat bergantung pada data. Statistik penguasaan bola, akurasi umpan, heat map pemain, hingga pola serangan dianalisis sebelum pertandingan. Demikian pula dunia usaha. Hari ini, data pelanggan jauh lebih berharga daripada sekadar intuisi. Pebisnis perlu mengetahui siapa konsumennya, produk apa yang paling diminati, waktu terbaik untuk berpromosi, serta media komunikasi yang paling efektif.
W. Edwards Deming mengatakan, “Without data, you’re just another person with an opinion.” Keputusan yang didasarkan pada data akan lebih akurat dibandingkan keputusan yang hanya didasarkan pada perkiraan.
Jangan Takut Mengubah Formasi
Dalam sepak bola, pergantian pemain sering kali mengubah jalannya pertandingan. Dalam bisnis, perubahan strategi pemasaran juga dapat mengubah arah perusahaan. Jika promosi konvensional mulai menurun efektivitasnya, beralihlah ke pemasaran digital. Jika pelanggan mulai berpindah platform, ikutilah mereka. Jika produk lama mulai kehilangan daya tarik, ciptakan inovasi baru. Karena perubahan bukan ancaman. Perubahan adalah kesempatan.
Kepemimpinan Menentukan Irama Permainan
Di lapangan, pelatih tidak mencetak gol. Namun, pelatih menentukan bagaimana gol itu tercipta. Dalam perusahaan, pemimpin juga tidak selalu berada di garis depan penjualan. Namun, dialah yang membangun budaya kerja, menentukan visi, menginspirasi tim, dan menjaga semangat ketika menghadapi tantangan.
John C. Maxwell mengatakan, “A leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way.” Pemimpin bisnis harus menjadi contoh, bukan sekadar pemberi instruksi.
Penutup: Menangkan Pasar seperti Menjuarai Pertandingan
Piala Dunia 2026 kembali mengingatkan kita bahwa kemenangan bukanlah hasil dari keberuntungan sesaat. Hal ini dibuktikan oleh Spanyol, Ia lahir dari strategi yang matang, dari latihan yang konsisten, dari disiplin menjalankan peran, dari keberanian mengambil peluang dan dari kemampuan membaca perubahan.
Pelaku usaha Indonesia menghadapi pertandingan yang tidak kalah berat. Persaingan global, disrupsi digital, kecerdasan buatan, perubahan perilaku konsumen, hingga ketidakpastian ekonomi menjadi “lawan” yang harus dihadapi setiap hari.
Namun, sebagaimana sepak bola mengajarkan kepada kita, pertandingan belum berakhir sebelum peluit panjang dibunyikan. Selama pelaku usaha terus belajar, beradaptasi, memperkuat tim, memanfaatkan teknologi, dan menjaga kepercayaan pelanggan, peluang untuk menjadi pemenang akan selalu terbuka.
Seperti filosofi yang sangat terkenal dari pelatih legendaris Johan Cruyff: “Quality without results is pointless. Results without quality are boring.” Maka dalam dunia bisnis, kualitas harus melahirkan hasil, dan hasil harus dibangun dengan kualitas.
Karena pada akhirnya, memenangkan pasar bukan sekadar soal menjual produk, melainkan tentang memenangkan hati pelanggan melalui strategi yang tepat, inovasi yang berkelanjutan, dan kerja sama tim yang luar biasa.






