Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here
JABAR  

Webinar Nasional Pendidikan Tiga Kampus Tekankan Profesionalisme Guru dan Etika di Era Disrupsi

Webinar Nasional
Webinar Nasional Pendidikan Tiga Kampus Tekankan Profesionalisme Guru dan Etika di Era Disrupsi

TANGERANG(Cakrawalaindonesia.id) — Alhamdulillah, sore itu suasana langit terlihat mendung, tiga kampus menyelenggarakan Webinar Nasional Pendidikan yang berlangsung lancar dan sukses. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Universitas Islam Al Karimiyah Depok, Jawa Barat, STAI INDAI Bandung, dan STES Bhakti Nugraha Kota Tangerang, Sabtu (7/2/2026) pukul 15.00 WIB.

Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi. Jumlah peserta yang mengikuti webinar ini mencapai 98 orang bahkan lebih, berasal dari berbagai kalangan. Tidak hanya mahasiswa dari beragam perguruan tinggi di Indonesia, peserta dari negeri jiran Malaysia turut bergabung untuk mengeksplorasi ilmu dan gagasan yang disampaikan para narasumber.

Webinar Nasional Pendidikan ini mengusung tema: “Pendidikan: Be Smart Teacher – Kajian Psikologi Analitik dan Profesionalisme Pendidikan.”

Para pemateri yang dihadirkan merupakan tokoh yang kompeten di bidangnya. Narasumber pertama adalah Assoc. Prof. Dr. Rini Susilowati, M.Pd., selaku Ketua STAI INDAI Bandung. Sementara itu, keynote speaker diisi oleh Dr. Ahmad Sujai, Kaprodi Magister PAI Universitas Islam Depok. Narasumber kedua adalah Dr. Ade Marpudin, M.M., Ketua STES Bhakti Nugraha Kota Tangerang, yang mengangkat tema “Pergeseran Etika dan Nilai Pembelajaran di Era Disrupsi.”

Acara dipandu oleh Saiful Anwar, M.Pd., dosen Universitas Islam Depok, yang membuka dan memandu jalannya webinar dengan sigap. Moderator kemudian mempersilakan keynote speaker untuk menyampaikan sambutan pembuka terkait dunia pendidikan.

Dalam pemaparannya, Dr. Ahmad Sujai menyampaikan bahwa guru merupakan pilar terdepan dalam dunia pendidikan. “Guru adalah arsitek bangsa dalam rangka mendidik generasi. Dalam Islam, peran guru sangatlah penting,” ujarnya di hadapan peserta webinar melalui Zoom.

Ia menekankan bahwa seorang guru harus mampu memaksimalkan proses pembelajaran. Tuntutan terhadap guru tidak hanya sebatas penguasaan materi atau modul yang baik, tetapi juga harus diiringi dengan metode pembelajaran yang tepat dan kreatif agar pesan-pesan pendidikan dapat tersampaikan secara efektif kepada peserta didik.

Lebih lanjut, Dr. Ahmad Sujai menambahkan, “Ruh seorang guru jauh lebih penting daripada metode itu sendiri.”
Ia menegaskan pentingnya keseimbangan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual, serta peran pendidik dalam memberikan teladan yang baik guna mengarahkan peserta didik pada nilai-nilai ketauhidan.

Pemaparan kemudian dilanjutkan oleh narasumber pertama, Assoc. Prof. Dr. Rini Susilowati, M.Pd., yang menyoroti pentingnya profesionalisme dalam dunia pendidikan.

“Profesionalisme terjadi ketika seseorang memahami apa yang dikerjakannya, menekuni, dan mengembangkan kapasitas dirinya,” ungkapnya.

Dengan pengalaman lebih dari 22 tahun di dunia pendidikan, ia menjelaskan bahwa perubahan zaman dan kompleksitas persoalan pendidikan menuntut pendidik untuk mampu menyesuaikan diri dengan keterbukaan sistem informasi saat ini.

“Pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan? Ilmu yang kita miliki harus dapat diimplementasikan,” ujarnya.

Menurutnya, terdapat beberapa aspek yang harus menjadi landasan profesionalisme pendidik, yakni aspek potensial, profesional (keahlian sesuai sasaran), fungsional (tepat guna), operasional, personal, dan produktif. Penjelasan tersebut disampaikan dengan penuh semangat di hadapan peserta webinar nasional.

Narasumber kedua, Dr. Ade Marpudin, M.M., menyoroti isu pergeseran etika dan nilai pembelajaran di era disrupsi. Ia menegaskan bahwa ilmu dan adab tidak dapat dipisahkan. “Ilmu tanpa adab melahirkan kecerdasan yang berbahaya, sementara adab tanpa ilmu kehilangan arah. Pendidikan harus kembali pada tujuan utamanya: membentuk manusia berilmu, beretika, dan beradab,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kemudahan akses ilmu di era digital perlu diimbangi dengan kematangan adab dalam menuntut ilmu. “Sejarah peradaban menunjukkan bahwa kemajuan ilmu tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu tumbuh bersama etika, adab, dan tanggung jawab moral,” jelasnya.

Menjelang waktu magrib, Dr. Ade menutup pemaparannya dengan sebuah harapan, “Jika kita ingin melahirkan generasi yang cerdas sekaligus beradab, maka kita harus menegaskan kembali bahwa belajar bukan hanya soal mengetahui, tetapi tentang menjadi manusia yang menghormati ilmu, memuliakan guru, dan bertanggung jawab atas pengetahuan yang dimilikinya. Dari sanalah pendidikan menemukan kembali ruhnya, dan peradaban memperoleh harapannya.”

Pernyataan-pernyataan tersebut menjadi renungan sekaligus solusi bagi para pendidik, peserta didik, dan pemangku kebijakan. Pendidikan diharapkan benar-benar menjadi modal utama bangsa untuk bangkit dan maju di masa depan. Oleh karena itu, pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang konstruktif dan kolektif, baik bagi murid, guru, maupun seluruh elemen pendidikan lainnya.