Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here
Cerita  

Serba serbi HPN 2026: Jambul, Pria Bergaya Vintage yang Mengurai Macet di Perjalanan Panjang

Jambul
Serba serbi HPN 2026: Jambul, Pria Bergaya Vintage yang Mengurai Macet di Perjalanan Panjang. (Dok: MS Faidar)

(Cakrawalaindonesia.id) – Penampilannya langsung mencuri perhatian. Celana panjang dengan bagian bawah mengembang ala tahun 70-an, rambut botak mengelilingi kepala dengan bagian belakang yang dibiarkan lebat—nyentrik, berani, dan penuh karakter. Sekilas wajahnya tampak sangar. Namun siapa pun yang mengenalnya akan segera tahu, di balik tampilan itu tersimpan pribadi yang hangat dan penuh keceriaan.

Dialah Ishar D, wartawan Potret News, yang lebih akrab disapa Jambul.

Lahir pada 1964 dan kini menginjak usia 62 tahun, Jambul bukan sekadar wartawan senior. Ia adalah energi dalam setiap perjalanan, terutama saat rombongan insan pers menempuh rute panjang Pekanbaru–Banten dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional 2026. Di tengah perjalanan yang melelahkan, ia hadir sebagai penawar jenuh. Candaannya mengalir tanpa dipaksa, tawanya lepas, dan kemampuannya berbaur membuat suasana bus selalu hidup.

Ke mana pun ia ditempatkan, dengan siapa pun ia duduk, Jambul tak pernah butuh waktu lama untuk akrab. Ia punya kemampuan langka, membuat orang merasa nyaman hanya dalam hitungan menit. Itulah mengapa sepanjang perjalanan pulang-pergi, namanya nyaris tak pernah absen dari percakapan dan gelak tawa.

Namun perjalanan itu menyisakan satu momen yang tak akan mudah dilupakan.

Di perbatasan Palembang-Jambi, rombongan terjebak kemacetan panjang. Kendaraan mengular, waktu berjalan lambat, dan perkiraan menunjukkan penantian bisa memakan waktu tiga hingga lima jam. Di saat sebagian orang memilih menunggu, Jambul justru memilih bertindak.

Tanpa banyak bicara, ia turun dari Bus Fajar Riau Wisata, Bus II. Dengan sigap ia mencari tahu sumber kemacetan, berkoordinasi di lapangan, dan membantu mengurai simpul persoalan. Tak lama kemudian, perlahan arus mulai bergerak. Bus yang ditumpangi rombongan pun akhirnya terbebas dari antrean panjang yang melelahkan.

Di situlah Jambul menunjukkan sisi lain dirinya. Ia bukan hanya penghibur perjalanan, tetapi juga pribadi yang tanggap dan peduli. Di balik kelucuan dan gaya eksentriknya, tersimpan keberanian serta kepedulian yang nyata.

Jambul adalah bukti bahwa wartawan bukan hanya tentang menulis dan melaporkan peristiwa. Ia juga tentang kehadiran, tentang memberi warna, dan tentang menjadi bagian dari solusi.

Perjalanan Pekanbaru–Banten itu mungkin telah usai. Namun tawa, aksi spontan, dan kehangatan seorang Jambul akan selalu menjadi cerita yang layak dikenang.

Terima kasih, Jambul. Karena perjalanan panjang terasa lebih singkat bersamamu.(*)