Oleh: Pamula Trisna Suri
Guru PJOK SMP Negeri 20 Pekanbaru, Provinsi Riau
Menumbuhkan Murid Sehat, Adil, dan Berdaulat melalui Sport Education Model
Subtema: Praktik Baik Pembelajaran Mendalam
Perhatian selalu tertuju kepada murid yang sudah terampil dalam pembelajaran bola voli. Mereka bergerak cepat, berani meminta bola, dan tampak menikmati permainan. Di sisi lain, ada murid yang berdiri lebih jauh, ragu mencoba, atau menunggu instruksi karena merasa kemampuannya belum cukup. Situasi itu membuat saya bertanya: apakah lapangan sudah benar-benar menjadi ruang belajar bagi semua murid, atau baru menjadi panggung bagi mereka yang paling siap?
Pertanyaan tersebut mendorong saya mengubah pembelajaran bola voli di kelas VII.2 SMP Negeri 20 Pekanbaru. Saya tidak ingin murid hanya mengulang servis, passing, smash, dan blocking. Keterampilan gerak tetap penting, tetapi pembelajaran akan kehilangan makna apabila murid hanya dapat menirukan teknik tanpa memahami alasan, strategi, nilai, dan manfaatnya bagi kehidupan. Lapangan perlu menjadi ruang untuk berpikir, mengambil keputusan, bekerja sama, memimpin, menerima kesalahan, dan menjaga kesehatan.
Saya kemudian merancang praktik pembelajaran mendalam melalui Sport Education Model (SEM). Kebaruan praktik ini terletak pada integrasi SEM, Papan Interaktif Digital (PID), proyek pertandingan voli mini, pembagian peran yang inklusif, kolaborasi PJOK-Bahasa Indonesia-IPA, serta refleksi kesehatan dalam satu rangkaian pengalaman belajar. Seluruh tahapan mengikuti alur memahami, mengaplikasi, dan merefleksi serta diarahkan agar pembelajaran berlangsung berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2025a).
Ketika Lapangan Harus Menjadi Milik Semua Murid
Sport Education Model dikembangkan untuk menghadirkan pengalaman olahraga yang lebih autentik di sekolah. Murid tidak hanya menjadi pemain, tetapi juga dapat menjalankan peran sebagai pelatih sebaya, wasit, pencatat skor, pengelola tim, atau panitia. Model ini menekankan afiliasi tim, kompetisi formal yang mendidik, pencatatan hasil, suasana perayaan, dan kegiatan puncak (Siedentop, 1994). Struktur tersebut saya adaptasi menjadi proyek pertandingan bola voli mini.
Pada awal kegiatan, saya menjelaskan bahwa kemenangan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Tim yang baik bukan hanya tim yang banyak mencetak angka, melainkan tim yang mampu membagi tugas, menjaga komunikasi, mematuhi aturan, dan memberi kesempatan kepada setiap anggota untuk berkontribusi. Murid dibagi ke dalam tim dan mulai mengenali kekuatan masing-masing. Ada yang siap menjadi pemain, ada yang teliti mencatat skor, ada yang percaya diri memimpin, dan ada pula yang lebih nyaman mengelola perlengkapan atau dokumentasi.
Pilihan ini bukan sekadar keputusan praktis, melainkan langkah yang berakar kuat pada prinsip pedagogis. Kajian Manninen dan Campbell (2022) menunjukkan bahwa SEM dapat mendukung otonomi, kompetensi, keterhubungan sosial, motivasi intrinsik, dan sikap prososial dibandingkan pembelajaran yang semata-mata berpusat pada latihan teknik. Penelitian Afrizen dan kolega (2026) pada pembelajaran bola voli juga melaporkan kemajuan dalam pemahaman, keterampilan, dan partisipasi ketika SEM diterapkan secara terstruktur. Temuan itu tidak saya gunakan untuk mengklaim angka keberhasilan kelas saya, tetapi menjadi penguat bahwa desain pembelajaran yang memberi ruang peran dan tanggung jawab memiliki dasar yang relevan.
Memahami: Teknologi Membuat Gerak Lebih Terlihat
Tahap memahami dimulai di ruang kelas dengan memanfaatkan PID. Saya menampilkan gerak dasar servis, passing, smash, dan blocking melalui gambar dan video. Tayangan dapat dihentikan pada bagian tertentu agar murid mengamati posisi kaki, arah lengan, titik perkenaan bola, dan gerak lanjutan. Saya juga menggunakan cuplikan pertandingan untuk mengajak mereka membaca ruang kosong, pola pertahanan, dan pilihan keputusan dalam permainan.
PID membantu menjadikan gerak yang cepat lebih mudah diamati, tetapi teknologi tidak saya tempatkan sebagai pusat pembelajaran. Layar hanyalah jembatan antara konsep dan pengalaman tubuh. Murid tetap harus berdiskusi, mencoba, keliru, menerima umpan balik, lalu memperbaiki gerak. Pemanfaatan papan interaktif menjadi bermakna ketika mendorong interaksi dan membantu murid membangun pemahaman, bukan ketika perangkat hanya menggantikan papan tulis (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2025b).
Pada tahap ini, murid tidak sekadar menerima informasi. Mereka membandingkan contoh gerak, mengajukan pertanyaan, menyampaikan alasan, dan memperkirakan akibat apabila posisi tubuh atau arah bola tidak tepat. Ketika masuk ke lapangan, mereka telah memiliki gambaran tentang apa yang akan dilakukan dan mengapa hal itu perlu dilakukan.

Mengaplikasi: Lapangan Menjadi Laboratorium Kehidupan
Setelah memahami konsep, murid mempraktikkan keterampilan di lapangan. Saya memberi arahan pada tahap awal, lalu secara bertahap mengurangi dominasi agar mereka belajar mengamati dan memberi umpan balik kepada teman. Latihan dilakukan berpasangan dan dalam permainan sederhana. Kesalahan tidak diperlakukan sebagai kegagalan, melainkan informasi untuk menentukan perbaikan berikutnya.
Pengalaman menjadi lebih nyata ketika murid menyelenggarakan pertandingan mini. Mereka menyusun tim, jadwal, aturan teknis, dan alur pertandingan. Kepanitiaan dibentuk dengan peran ketua, sekretaris, bendahara, seksi perlengkapan, dan dokumentasi. Murid menyiapkan laporan kegiatan, medali, piala, sertifikat, serta kebutuhan pertandingan. Sebagian bertugas mencatat hasil, sebagian mendokumentasikan kegiatan, dan sebagian memastikan pertandingan berjalan tertib.
Proyek ini membuka kolaborasi lintas mata pelajaran. Bersama guru Bahasa Indonesia, murid belajar menyusun proposal, laporan kegiatan, dan naskah dokumentasi. Refleksi juga dihubungkan dengan IPA, terutama untuk memahami hubungan aktivitas fisik dengan kesehatan jantung, paru-paru, peredaran darah, dan daya tahan kardiorespirasi. Pembelajaran PJOK merupakan bagian integral dari ekosistem pendidikan yang berkontribusi terhadap pengembangan kompetensi peserta didik secara holistik. Lapangan menjadi tempat bertemunya literasi, administrasi, sains, teknologi, keterampilan gerak, dan pendidikan karakter.


Bukti Perubahan: Jejak yang Dapat Dilihat
Saya memilih tidak mengubah pengamatan menjadi angka yang tidak pernah saya ukur. Praktik ini bukan eksperimen, dan dokumentasi kuantitatif belum saya susun secara lengkap. Karena itu, bukti dampak saya sajikan secara jujur melalui tiga jejak yang dapat diperiksa: produk yang dihasilkan, perubahan perilaku selama proses, dan makna yang muncul dalam refleksi.
Jejak pertama adalah produk. Laporan pertandingan voli mini kelas VII.2, medali, piala, jadwal, dokumentasi, dan pembagian tugas menunjukkan bahwa murid tidak hanya mengikuti permainan, tetapi mampu menuntaskan kegiatan bersama. Produk tersebut bukan sekadar hiasan penutup. Di baliknya terdapat proses berunding, membagi pekerjaan, menepati kesepakatan, dan menyelesaikan tanggung jawab.
Jejak kedua terlihat pada perilaku belajar. Murid yang awalnya menunggu instruksi mulai memiliki tugas yang harus dijalankan. Pemain belajar meminta dan memberi umpan balik. Pengurus tim belajar berkomunikasi, mengatur waktu, dan menyelesaikan masalah. Murid yang lebih terampil belajar membimbing tanpa merendahkan, sedangkan murid yang biasanya pasif memperoleh alasan untuk terlibat melalui peran yang bernilai. Suasana belajar menjadi menggembirakan bukan karena tidak ada tantangan, tetapi karena tantangan terasa nyata dan dapat ditaklukkan bersama.
Jejak ketiga muncul pada refleksi. Percakapan tidak berhenti pada siapa yang menang atau teknik apa yang berhasil. Murid diajak menilai cara tim mengambil keputusan, menyelesaikan perbedaan, menjaga komunikasi, dan memperbaiki kesalahan. Mereka juga menghubungkan pengalaman bergerak dengan perubahan napas, denyut jantung, kelelahan, pemulihan, dan kebutuhan menjaga kebugaran. Di sinilah pertandingan berubah menjadi pengalaman belajar.
Keadilan Tumbuh dari Peran yang Bernilai
Dalam pembelajaran olahraga, ketidakadilan dapat muncul ketika perhatian hanya tertuju kepada murid yang paling terampil. Murid yang kurang percaya diri atau belum menguasai teknik berisiko merasa tidak penting. SEM membantu saya memperluas makna keberhasilan. Seorang murid dapat berkontribusi sebagai pemain, pencatat skor, pengatur perlengkapan, pembuat laporan, dokumentator, wasit, atau pemimpin tim.
Peran tidak diberikan untuk mengotakkan kemampuan. Peran perlu dirotasi agar murid memperoleh pengalaman yang beragam. Murid yang terampil belajar mendengar dan membimbing. Murid yang teliti mendapat ruang mengelola jadwal dan catatan. Murid yang belum percaya diri dapat memulai dari tanggung jawab yang membuatnya merasa dibutuhkan, kemudian bertahap mencoba peran lain. Mereka belajar bahwa tim tidak dibangun oleh satu bintang, tetapi oleh banyak peran yang saling menguatkan.
Kompetisi juga harus dijaga agar tidak berubah menjadi tekanan atau konflik. Sportivitas, penghormatan kepada lawan, kepatuhan pada aturan, kemampuan mengendalikan emosi, dan kesediaan membantu teman menjadi bagian dari penilaian proses. Saya semakin memahami bahwa model pembelajaran tidak otomatis menghasilkan karakter. Karakter tumbuh melalui desain yang adil, keteladanan guru, penguatan, dan refleksi yang konsisten.
Merefleksi: Menjadikan Sehat sebagai Kesadaran
Setelah pertandingan, pembelajaran tidak langsung diakhiri. Murid diajak merefleksikan apa yang telah dipahami, dilakukan, dan dirasakan. Refleksi membantu mereka menyadari bahwa olahraga bukan kegiatan sesaat untuk memenuhi jadwal pelajaran. Aktivitas fisik merupakan kebutuhan yang perlu dipelihara sepanjang hayat.
Kesadaran tersebut penting ketika keseharian murid semakin dekat dengan layar dan aktivitas sedentari. PJOK perlu melahirkan murid yang bukan hanya mampu melakukan gerak, tetapi juga mampu membuat keputusan sehat secara mandiri. Tanpa refleksi, murid mungkin hanya mengingat pertandingan. Dengan refleksi, mereka menemukan makna: mengapa harus bekerja sama, mengapa aturan perlu dihormati, mengapa tubuh perlu dijaga, dan bagaimana pengalaman di lapangan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pelajaran bagi Saya dan Langkah Perbaikan
Praktik ini belum sempurna. Pembelajaran berbasis proyek membutuhkan waktu, kesiapan alat, koordinasi antarguru, dan pengelolaan kelas yang cermat. Tidak semua murid langsung mampu menjalankan peran. Ada yang perlu didampingi ketika berkomunikasi, menyusun jadwal, atau menerima kekalahan. Guru juga harus menjaga agar penggunaan PID tidak mengurangi waktu bergerak dan agar kegiatan kepanitiaan tidak membuat sebagian murid terlalu lama pasif.
Saya memperoleh tiga pelajaran utama. Pertama, tujuan pembelajaran dan ukuran keberhasilan perlu disampaikan sejak awal. Kedua, pembagian peran harus jelas, adil, dapat dirotasi, dan dapat dipertanggungjawabkan. Ketiga, asesmen harus melihat proses secara utuh: keterampilan gerak, pemahaman, partisipasi, komunikasi, sportivitas, kemandirian, serta refleksi.
Pada pelaksanaan berikutnya, saya akan memperkuat rubrik peran, menyiapkan rotasi tugas yang lebih terencana, dan menyediakan jeda refleksi singkat pada setiap pertemuan. Dokumentasi perkembangan juga akan dibuat lebih sistematis melalui catatan awal, umpan balik teman sebaya, rekaman proses, dan refleksi akhir. Dengan langkah itu, perubahan murid dapat dilihat lebih jernih dan perbaikan pembelajaran tidak hanya bergantung pada kesan guru.
Dari Lapangan Voli Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur
Tema “Dari Ruang Kelas Mewujudkan Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur” terasa dekat dengan praktik ini. Kedaulatan tumbuh ketika murid mampu mengatur diri, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap pilihannya. Keadilan hadir ketika semua murid, bukan hanya yang paling terampil, memperoleh peran yang bernilai dan kesempatan untuk berkembang. Kemakmuran diperkuat oleh generasi yang sehat, kreatif, mampu bekerja sama, berkomunikasi, dan terus belajar.
Pembelajaran bola voli mungkin tampak sederhana. Namun, di dalamnya terdapat latihan menjadi warga yang menghargai aturan, pemimpin yang mendengar anggota, anggota tim yang dapat dipercaya, dan individu yang peduli terhadap kesehatan. Nilai besar bangsa dapat tumbuh dari keputusan kecil: mengoper bola kepada teman, mengakui kesalahan, memberi semangat, menuntaskan tugas, dan menghormati lawan.
Melalui proses memahami, mengaplikasi, dan merefleksi, saya berusaha menghadirkan PJOK sebagai pendidikan yang utuh. Murid belajar dengan pikiran, hati, rasa, dan tubuh. PID, bola, lapangan, proposal, laporan, medali, dan pertandingan mini hanyalah sarana. Inti transformasinya terletak pada kesempatan yang diberikan kepada murid untuk berpikir, bergerak, memilih, bekerja sama, dan memaknai pengalaman. Dari lapangan kecil di SMP Negeri 20 Pekanbaru, langkah menuju Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur dapat mulai ditumbuhkan melalui satu gerakan, satu peran, dan satu pengalaman bermakna pada satu waktu.
Daftar Pustaka
Afrizen, A., Rifki, M. S., Alnedral, A., & Astuti, Y. (2026). The effectiveness of the Sport Education Model on volleyball learning outcomes of eighth-grade students. Indonesian Journal of Physical Education and Sport Science, 6(2), 334-343. https://doi.org/10.52188/ijpess.v6i2.2063
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025a). Pembelajaran mendalam. Sistem Informasi Kurikulum Nasional. https://kurikulum.kemendikdasmen.go.id/pembelajaran-mendalam
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025b, September 18).
Papan interaktif memfasilitasi pembelajaran mendalam. Direktorat Sekolah Dasar. https://ditsd.kemendikdasmen.go.id/artikel/detail/papan-interaktif-memfasilitasi-pembelajaran-mendalam
Manninen, M., & Campbell, S. (2022). The effect of the Sport Education Model on basic needs, intrinsic motivation and prosocial attitudes: A systematic review and multilevel meta-analysis. European Physical Education Review, 28(1), 78-99. https://doi.org/10.1177/1356336X211017938
Siedentop, D. (1994). Sport education: Quality PE through positive sport experiences. Human Kinetics.






