Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here

Cerpen: Dari Dapur Rumah Nenek (Bagian-2)

Oleh: Mastiardi, Entrepreneur.

(CIO) — Di rumah nenek memiliki banyak kamar. Kalau tidak salah ada enam kamar. Ya, karena ini adalah rumah pusaka (soko), rumah induk atau rumah utama keluarga besar Hj. Syamsidar (nama lengkap nenek). Setiap lebaran datang selalu ramai karena semua anak cucunya berkumpul di sini, semua kamar akan terisi penuh.

Dulu, di depan rumah nenek ada sebuah rumah panggung milik tetangga. Saya ingat waktu teman saya namanya Joko di jemput ibu nya pakai tangkai sapu ke rumah panggung itu.

Awal nya Joko yang mengenakan pakaian sekolah ikut bergabung dengan kami yang rata-rata masuk sekolah siang. Joko yang masuk pagi sepertinya salah alamat sekolah hari itu.

Entah dari siapa info masuk dengan cepat ke kamar tempat kami berkumpul, bahwa ibu Joko akan datang ke rumah nenek yang memang menjadi markas anak-anak muda baik teman-teman saya, maupun teman-teman mamak (Om).

Joko yang berseragam tadi langsung lari dan dalam hitungan beberapa menit saja sudah berada di atas loteng rumah panggung tadi. Saya yakin Joko kepanasan di atas sana dan di situ dipenuhi oleh gabah. Mungkin juga Joko melihat tikus berkeliaran atau matanya malah sibuk melihat ke bawah sambil mengawasi kapan tangkai sapu itu menujunya.

Joko tidak ditemukan di kamar yang kami jadikan markas saat ibunya datang. Entah dari mana info yang diperoleh Ibu Joko, ia langsung menuju rumah panggung dan melengkapi kekuatannya dengan tangkai sapu. Tanpa tangkai sapu pun saya rasa Joko tidak akan tahan jika tangan Ibu Joko mencubitnya.

Akhirnya Joko tertangkap dan pulang waktu itu juga dengan berseragam sekolah (SMP). “Kirain ke sekolah, rupanya ke sini, uang jajan tetap minta” lebih kurang seperti itu omelan-omelan yang kami dengar dari ibu Joko.

Kami yang di kamar melihat Joko kena seret pulang antara takut dan mau tertawa. Mana tahu kami juga kena semprot omelan ibu Joko.

Besoknya Joko datang lagi ke markas dengan pakaian sekolah. Dengan jam yang hampir sama seperti sebelumnya. Saya lupa apakah kami senang melihat Joko kembali ke kesatuan, entah menasihatinya agar ke sekolah dan kembali lagi kalau sudah pulang, entah kami lari karena takut. Sebentar lagi Ibu Joko pasti mencium keberadaannya.

(***)

Penulis saat ini berdomisili di Durian Sebatang, Desa Suka Damai, Kecamatan Ujungbatu Kabupaten Rokan Hulu.

Di sela-sela disibukannya dalam mengurus usaha seluler dan aktif di klinik UMKM Sakti Network, Ia masih meluangkan waktunya untuk menulis karya sastra berupa novel, cerpen dan puisi.

Cerpen ini Penulis dedikasikan buat mengenang almarhumah Neneknya yang tutup usia pada umur 89 tahun 2 hari yang lalu Semoga Almarhumah Husnul Khotimah.