BANTEN  

Kolaborasi 5 Kampus Ternama Gelar Seminar Internasional, Perkuat Ekonomi Syariah dan Ekosistem Halal di Era AI

Seminar Kolaboratif
Kolaborasi 5 Kampus Ternama Gelar Seminar Internasional, Perkuat Ekonomi Syariah dan Ekosistem Halal di Era AI.

TANGERANG(Cakrawalaindonesia.id) – Pada Sabtu siang, 17 Oktober 2026 lalu di tengah terik matahari Kota Tangerang, Aula Sekolah Menengah Atas di bawah naungan Lembaga YAPERA tampak telah disiapkan sejak Jumat malam, 16 Oktober 2026 untuk pelaksanaan Seminar Internasional Kolaboratif.

Kampus STES Bhakti Nugraha Kota Tangerang selaku penyelenggara yang diketuai oleh Herman Susilo, M.M., bersama tim mendekor ruangan agar layak difungsikan untuk seminar internasional kolaboratif tersebut.

Seminar Internasional Kolaboratif tersebut mengusung tema “Global Sharia Economy And Halal Ecosystem In The Era Of AI: Innovation, Human Capital And International Collaboration”. Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antar kampus ternama, yakni STIAMI Jakarta, STES Bhakti Nugraha Kota Tangerang, STIK Kendal Semarang, STAINU Tangerang, dan University of Malaya Kuala Lumpur.

Acara tersebut dibuka langsung oleh Dr. Ade Marpudin, M.M., C.A.H., C.A.U., selaku Ketua Umum Ikatan Dosen Ekonomi Syariah Indonesia sekaligus Ketua STES Bhakti Nugraha Kota Tangerang.

Dalam sambutannya, Dr. Ade Marpudin, M.M., C.A.H., C.A.U. menyampaikan, “Sebagai seorang muslim, maka wajib untuk memberikan nilai-nilai keislaman kepada seluruh lapisan masyarakat dan harus dibumikan. Gaya hidup halal harus ditumbuhkan, agar prinsip-prinsip syariah dapat ditegakkan,” ujarnya serius sambil menatap mahasiswa yang hadir di Aula YAPERA.

Dr. Ade Marpudin, M.M. menambahkan, “Kegiatan seminar internasional global sharia bukan hanya mencari keuntungan semata, tapi kemaslahatan untuk umat bersama. Jadi, perlu ada kerja sama lanjutan untuk menyukseskan gagasan seminar internasional kolaboratif.”

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua APTIKIS, Assoc. Prof. Dr. Akhmad Shunhaji, M.Pd.I. Ia mengatakan, “Mengajak kita untuk bicara ekonomi masa depan, dengan kualitas manusia yang bagus. Ilustrasinya, seorang pelaku usaha kecil dan menengah ingin memasarkan barangnya lebih luas. Jika mereka memiliki ilmunya dan komunitas, maka akan lebih mudah disebarkan.”

Assoc. Prof. Dr. Akhmad Shunhaji, M.Pd.I. menekankan, “Usaha mikro dan makro harus lebih kuat dengan membangun kolaborasi internasional. Forum ini merupakan kesempatan bersama dalam rangka menyelesaikan banyak topik atau persoalan,” ungkapnya melalui zoom meeting.

Sebagai Ketua APTIKIS, Assoc. Prof. Dr. Akhmad Shunhaji, M.Pd.I. mendorong, “Pertemuan ini untuk lebih mampu menjawab tantangan modern. Di sinilah pemanfaatan teknologi untuk penelitian, termasuk AI, yang perlu berjalan bersama dan memiliki integritas,” imbuhnya di depan para peserta seminar yang hadir melalui zoom meeting siang itu.

Tidak kalah menarik pemateri berikutnya, Prof. Dr. Sapta Nirwandar, S.E., mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI dan Pembina IDESy Indonesia. Prof. Dr. Sapta Nirwandar, S.E. menyampaikan, “Perlunya menata ulang masa depan ekonomi syariah dan ekosistem halal global: nilai-nilai Islam, inovasi AI, dan kolaborasi internasional strategis. Jika hidup ingin selamat, maka pegang teguh syariat,” ungkapnya dengan nada tegas.

Prof. Dr. Sapta Nirwandar, S.E. menambahkan, “Global Sharia Economy and Halal Ecosystem in the Era of AI: Innovation, Human Capital and International Collaboration. Beliau mengutip istilah syariah lifestyle, termasuk pendapatan yang harus halal. Dan yang belum halal, maka harus segera dihalalkan,” ujar beliau dengan fasih sambil menggunakan Bahasa Inggris.

Semakin sore, pemberian materi semakin menarik pada acara seminar internasional tersebut. Hampir menyentuh 200 peserta lebih lewat zoom meeting, belum lagi yang datang langsung ke aula. Hal ini menandakan antusiasme terhadap gerakan syariah cukup tinggi.

Disambung lewat zoom, pemateri berikut disampaikan oleh H. Hasan Gaido, S.Ag., C.A.H., praktisi bidang ekonomi dan halal syariah. “Bahwa umat Islam harus memiliki peran. Potensi yang besar dimiliki Indonesia untuk membangun ekonomi syariah di era digital,” ujarnya sambil menunjukkan data-data di layar zoom.

Ia menambahkan, “Kita selalu berkutat membahas teori, praktiknya masih menjadi PR. Di level global, peringkat kita masih 4, berada di bawah Malaysia. Dengan jumlah penduduk 300 juta lebih, muslim nomor 1 dunia, maka seluruh dunia memandang Indonesia sebagai market. Peluang investasi dan perdagangan sangat besar.”

Dia menambahkan, “Dengan adanya AI, orang akan mulai menggunakan AI yang dapat memprediksi panen padi, atau yang lain.”

Disambung materi berikutnya yang cukup menyita perhatian audiens oleh H. Ivan Hartawan, S.E., M.Si., Rektor STIAMI Jakarta / Direktur Utama Bank Syariah Amanah Insani.

H. Ivan Hartawan, S.E., M.Si. menyatakan, “Bahwa sosialisasi halal dan industri halal harus jelas kehalalannya. Praktiknya harus jelas dan ada monitoring. Jika tidak, akan banyak yang akhirnya melanggar. Analisis pembiayaan, pembiayaan berkelanjutan dan pelaksanaan, serta sumber daya manusia harus menguasai data,” ungkapnya di Aula YAPERA Kota Tangerang.

Sementara itu, Dr. Mohd Hafiz Bin Jamaludin, Senior Lecturer University of Malaya Kuala Lumpur, Malaysia, dengan tajuk International Collaboration, Halal Market Integration and Global Competitiveness, mengatakan bahwa kebutuhan yang diperlukan oleh seorang muslim harus sesuai dengan syariat dan mengandung kemaslahatan.

Sementara itu, Dr. H. Muhammad Qustulani, MA.Hum., C.A.H., Rektor STAINU Kota Tangerang, dengan pembahasan Artificial Intelligence, mengatakan, “Jangan sampai AI menghilangkan syariatnya. Ada beberapa hal yang ditemukan pada permasalahan akad. Sering kali bertentangan dengan akad muamalah, dalam praktik ditemukan hal-hal yang menuju kepada gharar, tadlis, dan riba. Dengan AI bukan berarti harus mengubah hukum syariah,” ujarnya di dalam zoom meeting.

Pemateri terakhir disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Ahmad Tantowi, M.Si., selaku Rektor STIK Kendal, Jawa Tengah, yang menekankan, “Bahwa setiap kampus harus bekerja sama untuk menyelesaikan permasalahan umat. Menjadi harapan umat Islam, terutama di kalangan akademik dan praktisi, bahwa ekonomi syariah harus menjangkau area yang cukup luas,” ungkapnya walaupun terkendala jaringan yang putus-putus.

Tentunya, ketika menjangkau area yang cukup luas maka ada dampak positif dari pagelaran seminar internasional tersebut, terutama untuk meningkatkan ekonomi umat Islam saat ini. Informasi dan dokumentasi lengkap kegiatan ini diterima oleh redaksi Cakrawalaindonesia.id pada Jumat (23/10/2026).